JAKARTA – Ignatius Kardinal Suharyo Hardjoatmodjo, Uskup Agung Jakarta sejak 2010, adalah sosok sentral dalam Gereja Katolik Indonesia dan satu-satunya kardinal elektor dari Indonesia yang berhak mengikuti konklaf pemilihan Paus.
Lahir pada 9 Juli 1950 di Sedayu, Bantul, Yogyakarta, Suharyo telah mendedikasikan hidupnya untuk pelayanan gerejawi, dengan pengalaman luas sebagai teolog, pendidik, dan pemimpin.
Pada usia 74 tahun, ia memenuhi syarat utama sebagai kardinal elektor—berusia di bawah 80 tahun—sehingga memiliki hak untuk memilih dan secara teoritis dapat dipilih sebagai Paus dalam konklaf yang dijadwalkan dimulai 7 Mei 2025 di Vatikan, menyusul wafatnya Paus Fransiskus pada 21 April 2025.
“Saya sendiri tidak mempunyai persiapan apa-apa (ikut Konklaf). Ikut saja,” ujar Suharyo dalam jumpa pers di Gereja Katedral, Jakarta Pusat, Kamis, 24 April 2025.
Meski tanpa persiapan khusus, Kardinal Suharyo membawa pengalaman puluhan tahun dalam kepemimpinan gereja, termasuk sebagai Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) periode 2012–2021 dan Uskup Ordinariat Militer Indonesia sejak 2006.
Pengangkatan sebagai kardinal oleh Paus Fransiskus pada 5 Oktober 2019 menegaskan perannya sebagai wakil Asia dalam hierarki Gereja Katolik global, dengan tugas di Dikasteri untuk Evangelisasi dan Dialog Antaragama.
“Saya kira-kira sudah bisa membayangkan siapa yang akan banyak berbicara, siapa yang akan mengemukakan gagasan. Tapi, siapa yang akan terpilih, tidak pernah ada yang tahu,” jelas Kardinal Suharyo tentang dinamika konklaf.
Kehadirannya di Vatikan bukan hanya simbol kebanggaan Indonesia, tetapi juga representasi Asia Tenggara dalam diskusi masa depan Gereja Katolik, yang kini menghadapi tantangan modern seperti keadilan sosial, lingkungan, dan dialog antaragama.
Perjalanan Hidup dan Kontribusi
Kardinal Suharyo lahir dari keluarga religius, anak ketujuh dari sepuluh bersaudara, dengan dua saudarinya menjadi biarawati dan seorang saudara laki-lakinya menjadi imam.
Ia menempuh pendidikan di Seminari Menengah Mertoyudan, Magelang, dan Seminari Tinggi Santo Paulus, Yogyakarta, sebelum meraih gelar doktor teologi biblis dari Universitas Urbaniana, Roma, pada 1981.
Kariernya sebagai pendidik teologi dimulai di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, di mana ia menjabat sebagai Dekan Fakultas Teologi (1993–1997) dan Guru Besar bidang teologi sejak 2004.
Pada 1997, Paus Yohanes Paulus II mengangkatnya sebagai Uskup Agung Semarang, dan pada 2010, ia menjadi Uskup Agung Jakarta, menggantikan Kardinal Julius Darmaatmadja, S.J. Suharyo juga aktif dalam KWI, menjabat sebagai Sekretaris Jenderal (2000–2006) dan Ketua Presidium selama tiga periode.
Ia dikenal sebagai pendukung dialog antaragama dan keadilan sosial, mendirikan Komisi Keadilan dan Perdamaian di Keuskupan Agung Jakarta pada 2016.
Peran sebagai Kardinal Elektor dan Persyaratan Konklaf
Menurut Konstitusi Apostolik Universi Dominici Gregis, hanya kardinal berusia di bawah 80 tahun yang dapat menjadi elektor dalam konklaf, dengan maksimum 120 kardinal pemilih.
Dari 252 kardinal di seluruh dunia, sekitar 135 memenuhi syarat usia, termasuk Suharyo, yang berusia 74 tahun.
“Semua yang ada di dalam konklaf itu mempunyai hak memilih dan dipilih,” kata Kardinal Suharyo.
Menjelaskan bahwa proses konklaf tidak melibatkan kampanye terbuka, tetapi diskusi tertutup tentang visi Gereja.
Konklaf, yang digelar di Kapel Sistina, bersifat rahasia, dengan kardinal bersumpah untuk tidak membocorkan prosesnya, di bawah ancaman ekskomunikasi.
Meski namanya muncul dalam bursa kandidat Paus, peluang Kardinal Suharyo dianggap kecil dibandingkan kardinal lain seperti Matteo Zuppi (Italia), Luis Tagle (Filipina), atau Peter Turkson (Ghana), yang lebih diunggulkan media.
“Kalau orang bercita-cita menjadi Paus, maaf ya, itu bodoh,” ujar Kardinal Suharyo, menegaskan bahwa pemilihan Paus bukan soal ambisi, tetapi bimbingan spiritual.
Ia mencontohkan Paus Fransiskus, yang terpilih pada 2013 meski tidak diunggulkan, sebagai bukti bahwa hasil konklaf sulit diprediksi.
Signifikansi Global dan Harapan Umat
Partisipasi Kardinal Suharyo dalam konklaf 2025, yang dimulai 7 Mei, menandai peran strategis Indonesia dalam Gereja Katolik global.
Sebagai wakil Asia Tenggara, ia membawa perspektif keberagaman dan harmoni Indonesia, yang sering disuarakannya di Vatikan.
Kehadirannya di Vatikan juga memperkuat hubungan diplomatik Indonesia-Vatikan, yang telah terjalin sejak pengakuan kemerdekaan Indonesia pada 1946.
Namun, masa jabatan Kardinal Suharyo sebagai Uskup Agung Jakarta akan berakhir pada Juli 2025, saat ia menginjak usia 75 tahun dan wajib mengajukan pengunduran diri sesuai hukum kanonik.
Meski Vatikan bisa memperpanjang masa baktinya, spekulasi tentang penggantinya, seperti Mgr. Paskalis Bruno Syukur, mulai muncul.
Apa pun hasil konklaf, warisan Kardinal Suharyo sebagai kardinal yang rendah hati dan berdedikasi akan terus menginspirasi umat Katolik Indonesia.
Seperti diketahui, saat ini Kardinal Suharyo sudah berada di Vatikan, berangkat Minggu (4/5/2025) dari Jakarta.
Humas KWI, mengunggah aktifitas Kardinal Suharyo di hari pertamanya di Vatikan, dikerumuni para jurnalis internasional.
“Sebelum memasuki Aula Paulus VI, Kardinal Suharyo menanggapi para wartawan yang bertanya kepada beliau. Di tengah keramaian itu pula, beliau memberi berkat kepada seorang Bapak yang duduk di atas kursi roda,” unggah Humas KWI di akun Instagram, Senin (5/5/2025).***
