JATIM – Atlet binaraga Kabupaten Malang terpaksa mengonsumsi ayam tiren akibat keterbatasan dana jelang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur 2025. Kejadian tersebut memicu keprihatinan publik setelah kisah mereka viral di media sosial.
Realitas Miris di Tengah Ambisi Juara
Video yang beredar luas menunjukkan para atlet binaraga membersihkan ayam tiren di kamar mandi, sebuah pemandangan yang jauh dari standar gizi seorang atlet profesional. Ayam tiren, yang dibeli dengan harga murah sekitar Rp100 ribu untuk tiga karung, menjadi solusi terpaksa karena harga ayam potong segar mencapai Rp32 ribu per kilogram. Namun, dari tiga karung tersebut, hanya sekitar 5 kilogram atau satu karung yang layak dikonsumsi, sisanya sudah membusuk.
Ketua Persatuan Binaraga dan Fitnes Indonesia (PBFI) Kabupaten Malang, Indra Khusnul, mengakui kondisi sulit ini. “Kami dapat ayamnya dari peternak. Ayam yang sudah mati dan mau dibuang atau dikubur. Beberapa ayam sudah terlalu busuk, jadi tidak dikonsumsi, sekitar 1 karung saja yang layak dikonsumsi,” ujarnya.
Para atlet ini hanya mengambil bagian dada ayam, yang kaya protein dan rendah lemak, untuk mendukung pembentukan massa otot. Namun, keputusan ini bukan tanpa risiko, baik dari sisi kesehatan maupun aturan agama. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jatim menyebut konsumsi ayam tiren haram dan berbahaya.
Anggaran Minim, Beban Berat Atlet
Kisah ini mencuat karena keterlambatan pencairan dana dari Pemerintah Kabupaten Malang. Indra Khusnul menjelaskan, kebutuhan gizi seorang atlet binaraga mencapai Rp6-7 juta per bulan untuk suplemen, multivitamin, dan makanan bergizi. Namun, anggaran Pemusatan Latihan Kabupaten (Puslatkab) yang baru cair hanya Rp1 juta per atlet, jauh dari cukup.
“Yang cair hari ini, cuma anggaran Puslatkab. Itu uang saku bagi atlet. Untuk nutrisi, multivitamin, dan gizi belum ada,” kata Indra.
Pemkab Malang akhirnya buka suara. Plh Sekda Kabupaten Malang, Nurman Ramdansyah, mengakui adanya keterlambatan karena proses administrasi yang rumit.
“Kami memang sedikit terlambat, semua proses pencairan anggaran pemerintah tidak bisa langsung. Ada proses, tapi Alhamdulillah hari ini sudah bisa cair semua termasuk (untuk) binaraga, sudah bisa kami cukupi,” ujarnya.
Sorotan Kesehatan dan Dukungan Publik
Konsumsi ayam tiren memicu kekhawatiran serius dari kalangan medis. Prof Ari Fahrial Syam, ahli penyakit dalam, memperingatkan bahwa ayam tiren berisiko menyebabkan infeksi usus karena potensi kontaminasi bakteri, parasit, atau jamur.
“Mengonsumsi makanan yang sudah rusak (termasuk ayam tiren) berisiko infeksi usus. Ini sangat berbahaya,” tegasnya.
Meski menghadapi keterbatasan, semangat para atlet tidak pudar. PBFI Malang tetap menargetkan juara umum di Porprov 2025, mengulang kesuksesan mereka di Porprov Jember dan Sidoarjo. Indra bahkan menggunakan dana pribadi dan hasil bisnis fitnes untuk mensubsidi kebutuhan atlet.
“Kekurangannya dana pribadi, dana saya pribadi. Jadi kita punya dua tempat latihan, satu latihan itu untuk kita komersialkan, satunya untuk penanganan atlet,” ungkapnya.
Harapan untuk Perubahan
Kisah ini menjadi cerminan tantangan besar yang dihadapi atlet daerah dalam mengejar prestasi. Keterbatasan anggaran tidak hanya mengancam kesehatan, tetapi juga semangat juang mereka. Publik kini berharap Pemkab Malang dan pihak terkait segera memberikan solusi konkret, seperti pendanaan tepat waktu dan bantuan gizi yang memadai.
Indra berharap perhatian lebih dari pemerintah.
“Harapan kami, cobalah selami setiap cabor, apa kekurangannya, apa yang dibutuhkan itu harus diperhatikan,” katanya.
Sementara itu, kisah para atlet ini menggugah solidaritas netizen, yang menyerukan dukungan agar mereka mendapat asupan gizi layak demi mengharumkan nama Malang di Porprov 2025.