NEW DELHI, INDIA – India menutup 32 bandara sipil di wilayah utara dan barat hingga 15 Mei 2025 akibat meningkatnya ketegangan militer dengan Pakistan. Langkah ini diambil untuk menjamin keamanan warga sipil di tengah situasi yang kian genting.
Konflik Memanas di Perbatasan
Ketegangan ini dipicu oleh serangan militan pada 22 April lalu di Pahalgam, Kashmir yang dikuasai India. Serangan tersebut menewaskan 26 warga sipil, sebagian besar turis.
India menuding Pakistan berada di balik insiden ini, meskipun Islamabad membantah keras tuduhan tersebut.
Sejak saat itu, kedua negara terlibat aksi saling serang, termasuk serangan rudal dan operasi militer besar-besaran.
Pada Sabtu (10/5), Pakistan melancarkan Operasi Bunyan Marsoos sebagai balasan atas serangan India ke tiga pangkalan udara di Rawalpindi, Shorkot, dan Chakwal.
Serangan Pakistan menargetkan fasilitas militer strategis India, seperti gudang rudal BrahMos dan sistem pertahanan udara S-400 di Adampur. Sementara itu, India melancarkan Operasi Sindoor yang menewaskan sedikitnya delapan orang dan melukai lebih dari 35 orang di wilayah Pakistan.
Langkah Penutupan Bandara
Bandara-bandara yang ditutup termasuk pusat transit utama seperti Amritsar, Srinagar, Leh, dan Jodhpur. Penutupan ini berdampak besar pada lalu lintas udara sipil di wilayah barat laut India dan Kashmir yang dikuasai India.
“Keputusan ini diambil untuk memastikan keselamatan penerbangan sipil di tengah situasi yang tidak menentu,” ujar seorang pejabat Kementerian Penerbangan Sipil India yang enggan disebutkan namanya.
Pakistan pun menutup ruang udaranya selama 24 jam sebagai respons atas serangan India ke Pangkalan Udara Nur Khan—fasilitas yang sering digunakan oleh pejabat tinggi Pakistan dan tamu asing.
Wakil Perdana Menteri Pakistan, Ishaq Dar, menegaskan bahwa negaranya membalas setelah bersabar cukup lama.
“Bahkan pada hari pertama, kami tetap berada di wilayah kami dan menyerang jet-jet yang memasuki wilayah udara Pakistan. Lima di antaranya berhasil kami jatuhkan,” ujar Dar kepada Geo News.
Dampak Global dan Ancaman Perang Nuklir
Eskalasi ini memicu kekhawatiran global, mengingat India dan Pakistan adalah negara bersenjata nuklir. China menyerukan kedua negara untuk menahan diri dan kembali ke jalur diplomasi.
“Kami sangat menyerukan kepada India dan Pakistan untuk mengutamakan perdamaian dan stabilitas, tetap tenang dan menahan diri,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China, seperti dikutip AFP.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menawarkan mediasi untuk meredakan ketegangan.
Para analis memperingatkan bahwa konflik ini berpotensi memicu “hujan rudal” yang dapat menghancurkan kota-kota besar. Sushant Sareen, analis strategis dari India, mengatakan, “Jika rudal akan menghujani kota satu sama lain, maka jika Islamabad dan Lahore rentan, New Delhi juga rawan.”
Kekhawatiran ini diperkuat oleh prediksi ilmuwan pada 2019 yang menyebutkan bahwa perang nuklir antara India dan Pakistan pada 2025 dapat menewaskan hingga 125 juta orang.
Imbauan untuk Warga Indonesia
Kementerian Luar Negeri Indonesia mengimbau WNI di India dan Pakistan agar menghindari wilayah rawan konflik, terutama di perbatasan dan Kashmir.
“Kami terus memantau situasi dan meminta WNI untuk selalu mengikuti informasi dari otoritas setempat,” demikian pernyataan resmi Kemlu RI.
Situasi di perbatasan India–Pakistan masih sangat cair, dengan potensi eskalasi lebih besar. Dunia kini menahan napas, berharap kedua negara dapat menemukan jalan damai sebelum konflik ini berubah menjadi bencana tak terkendali.