GAZA, PALESTINA – Serangan udara Israel kembali mengguncang Jalur Gaza, kali ini menargetkan sebuah rumah sakit di Khan Younis, menewaskan sedikitnya 28 orang, termasuk jurnalis terkenal Palestina, Hassan Aslih. Insiden tragis ini terjadi pada Selasa, 13 Mei 2025, dan telah memicu kecaman luas atas eskalasi kekerasan di wilayah tersebut.
Menurut laporan dari sumber setempat, enam bom dijatuhkan dalam serangan yang menghancurkan Rumah Sakit Nasser di Khan Younis. Korban tewas dan luka-luka segera dilarikan ke fasilitas medis yang sama, namun rumah sakit tersebut kembali menjadi sasaran serangan sehari kemudian, memperparah situasi kemanusiaan.
“Kami kehilangan nyawa tak berdosa, termasuk Hassan Aslih, seorang jurnalis yang berdedikasi melaporkan penderitaan rakyat Gaza,” kata seorang pejabat medis setempat.
Serangan ini menambah daftar panjang korban di Gaza, di mana operasi militer Israel terus berlangsung. Badan Pertahanan Sipil Gaza melaporkan bahwa banyak korban adalah pasien dan staf medis yang tengah berjuang menyelamatkan nyawa di tengah keterbatasan sumber daya. Rumah Sakit Nasser, salah satu fasilitas kesehatan utama di wilayah selatan Gaza, kini nyaris lumpuh akibat kerusakan parah.
Sasaran Kontroversial: Jurnalis Jadi Korban
Serangan terhadap Rumah Sakit Nasser dilaporkan sengaja menargetkan Hassan Aslih, seorang jurnalis foto yang dikenal karena keberaniannya mendokumentasikan konflik di Gaza. Aslih sedang menjalani perawatan di rumah sakit tersebut saat serangan terjadi. Kematiannya memicu kemarahan di kalangan jurnalis dan aktivis, yang menuduh Israel sengaja membungkam suara-suara yang mengungkap realitas di lapangan.
“Kami mengecam keras serangan ini. Menyerang rumah sakit dan membunuh jurnalis adalah pelanggaran berat terhadap hukum internasional,” ujar seorang perwakilan organisasi hak asasi manusia, yang meminta identitasnya dirahasiakan demi keamanan.
Krisis Kemanusiaan di Gaza Makin Memprihatinkan
Serangan ini terjadi di tengah situasi kemanusiaan yang semakin memburuk di Gaza. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa rumah sakit di wilayah tersebut kekurangan pasokan medis, listrik, dan air bersih.
“Situasi di Gaza sudah di ambang kehancuran. Fasilitas kesehatan tidak lagi mampu menangani gelombang korban,” ungkap seorang juru bicara WHO.
Warga Gaza yang selamat dari serangan menggambarkan kepanikan dan keputusasaan saat bom menghantam.
“Kami pikir rumah sakit adalah tempat aman, tapi sekarang tidak ada lagi tempat yang benar-benar aman di sini,” kata seorang saksi mata yang enggan disebutkan namanya.
Dunia Internasional Diminta Bertindak
Komunitas internasional mendesak agar investigasi independen dilakukan terkait serangan ini. Beberapa negara dan organisasi kemanusiaan menyerukan gencatan senjata segera untuk mencegah lebih banyak korban sipil. Namun, hingga kini, konflik di Gaza masih jauh dari kata usai, dengan kedua belah pihak saling menyalahkan atas eskalasi kekerasan.