ACEH – Hari ini, Jumat (26/12/2025), masyarakat Aceh kembali menggelar peringatan 21 tahun tragedi gempa dan tsunami 2004. Momen tersebut menjadi ajang refleksi, menyatukan kenangan pahit masa lalu dengan kepedihan akibat bencana alam yang masih terus menghantui.
Bagi warga Aceh, peringatan kali ini bukan sekadar mengenang kehilangan besar dua dekade silam, melainkan juga menghadapi tantangan masa kini. Doa dan harapan terus dipanjatkan agar daerah ini senantiasa diberi kekuatan untuk bangkit lebih kuat, demi masa depan yang aman dari ancaman bencana.
Pada 26 Desember 2004, Aceh luluh lantak dihantam gelombang tsunami yang dipicu gempa berkekuatan magnitudo 9,1. Tragedi tersebut tercatat sebagai salah satu bencana paling mematikan dalam sejarah modern, menewaskan lebih dari 200 ribu jiwa, menghancurkan infrastruktur vital, dan melumpuhkan perekonomian daerah.
Belum lama ini, di akhir November 2025, sejumlah wilayah Aceh kembali diterjang bencana. Banjir bandang dan tanah longsor melanda Aceh Tamiang, Bireuen, Pidie, Aceh Utara, Aceh Tengah, hingga Nagan Raya. Peristiwa itu menelan ratusan korban jiwa, merusak infrastruktur, fasilitas umum, serta lahan pertanian, dan melumpuhkan akses logistik bagi jutaan warga.