BEKASI— Suasana emosional menyelimuti hari pertama masuk sekolah di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 13 Kota Bekasi, Senin pagi (15/7).
Sebanyak 180 siswa baru resmi memulai masa orientasi mereka di lingkungan Sekolah Rakyat yang beroperasi di kawasan Sentra Terpadu Pangudi Luhur (STPL).
Momen tersebut tak hanya menjadi langkah awal bagi para pelajar, tetapi juga simbol harapan baru bagi orang tua yang selama ini terhalang akses pendidikan.
Di tengah barisan orang tua yang melepas anak-anak mereka dengan doa dan air mata, hadir sosok Wuryani, ibu dari Khalid, yang tak kuasa menyembunyikan rasa syukurnya.
Ia mengaku seolah bermimpi bisa melihat anaknya diterima di sekolah setara SMA secara gratis.
“Rasanya kayak nggak nyangka, Bu. Saya bersyukur sekali bisa melihat anak saya sekolah,” tutur Wuryani dengan mata berkaca-kaca.
Sebelum mengikuti kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang berlangsung selama tiga bulan, para siswa lebih dulu melewati tahap pengecekan barang bawaan dan penempatan kamar asrama sesuai aturan sekolah.
Setelah itu, mereka berganti mengenakan seragam putih abu-abu khas Sekolah Rakyat—busana sederhana namun penuh makna kesetaraan.
InsyaAllah Tidak Akan Kecewa
Pagi itu, kegiatan MPLS dibuka secara resmi oleh Wakil Menteri Sekretaris Negara (Wamensesneg) Juri Ardiantoro.
Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa pendirian Sekolah Rakyat adalah bentuk nyata kepedulian pemerintah terhadap kelompok masyarakat miskin yang sulit mengakses pendidikan formal.
“Kalau orang tua dan anak punya motivasi dan semangat tinggi untuk bersekolah, insyaAllah tidak akan kecewa.”
“Kalau tidak mendapatkan tempat yang baik karena tidak punya uang, pemerintah menyediakan tempat yang baik, yaitu Sekolah Rakyat,” ujar Wamensesneg.
Didampingi oleh Staf Ahli Menteri Sosial bidang Teknologi Kesejahteraan Sosial, Pepen Nazaruddin, Juri turut menyaksikan antusiasme orang tua dalam proses registrasi dan penempatan siswa di asrama.

Pepen pun menyoroti semangat luar biasa dari para wali murid yang mengantar anak-anak mereka dengan harapan besar.
“Kita lihat keseruan dan semangat para orang tua saat mengantar anak-anaknya bersekolah, penuh haru dan semangat,” ucapnya.
Usai registrasi, seluruh siswa SRMA 13 menjalani pemeriksaan kesehatan gratis yang diselenggarakan oleh tim medis gabungan dari Puskesmas Aren Jaya dan Bekasi Jaya.
Cek kesehatan ini mencakup tekanan darah, tinggi dan berat badan, hingga pemeriksaan mata—semua dilakukan di laboratorium Biologi sekolah.
Tak hanya itu, siswa kemudian diarahkan menuju aula STPL untuk mengikuti siaran langsung pembukaan nasional MPLS Sekolah Rakyat yang dipusatkan di Sentra Inten Soeweno, Cibinong.
Acara yang disiarkan melalui Zoom ini turut dihadiri para menteri Kabinet Merah Putih dan menampilkan cuplikan kegiatan siswa serta fashion show seragam sekolah.
Wajah-wajah bahagia dan penuh harap terpancar dari para siswa SRMA 13 yang turut menyaksikan acara tersebut.
Saat ini, SRMA 13 Kota Bekasi didukung oleh 20 guru dari berbagai disiplin ilmu seperti Bahasa, Sains, Ilmu Sosial, Teknologi, hingga Pendidikan Agama.
Hal ini menjadi fondasi kuat dalam mewujudkan pendidikan berkualitas yang merata dan menjangkau kelompok marjinal.
Mengusung Trilogi Sekolah Rakyat—Memuliakan wong cilik, Menjangkau yang belum terjangkau, dan Memungkinkan yang tidak mungkin—SRMA 13 hadir sebagai simbol perjuangan pendidikan yang inklusif dan berkeadilan.
Habib, salah satu siswa, mengaku antusias menjalani hari pertamanya di lingkungan baru yang menurutnya sangat mendukung.
“Seru banget karena fasilitasnya di sini lengkap, jadi terasa banyak aktivitas yang bisa dilakukan,” ujarnya.
Dengan semangat gotong royong, kehadiran Sekolah Rakyat seperti SRMA 13 tak hanya menjadi harapan baru bagi anak-anak Indonesia, tetapi juga bukti nyata bahwa pendidikan adalah hak semua warga—tanpa melihat status ekonomi.***