WASHINGTON, AS – Amerika Serikat menghadapi tantangan serius akibat menipisnya persediaan amunisi setelah memberikan bantuan militer besar-besaran kepada Israel dan Ukraina di tengah konflik yang berkecamuk. Laporan terbaru menunjukkan bahwa Pentagon kini terpaksa mengevaluasi ulang cadangan senjata untuk memastikan kesiapan militer AS di masa depan.
“Amerika Serikat tampaknya habis-habisan membela Israel dan Ukraina sehingga persediaan amunisi dan senjatanya menipis.” Situasi ini memicu kekhawatiran di kalangan pejabat Departemen Pertahanan AS, yang kini harus memprioritaskan kepentingan nasional sembari menangani komitmen internasional.
Krisis Amunisi di Tengah Dukungan Militer
Bantuan militer AS ke Ukraina, yang telah mencapai lebih dari USD 66 miliar sejak invasi Rusia pada Februari 2022, mencakup pengiriman ribuan rudal dan amunisi presisi seperti rudal Patriot, Hellfire, dan Stinger. Namun, tingginya intensitas pengiriman ini, ditambah dengan dukungan untuk operasi militer Israel di Gaza dan konflik singkat melawan Iran, telah menguras stok senjata AS.
“Keputusan ini diambil untuk mengutamakan kepentingan AS setelah dilakukan tinjauan atas dukungan dan bantuan militer negara kita terhadap negara lain di seluruh dunia,” kata juru bicara Gedung Putih, Anna Kelly, seperti dikutip dari Associated Press.
Penghentian sementara pengiriman senjata ke Ukraina, termasuk puluhan rudal Patriot dan ratusan rudal Hellfire, menjadi bukti nyata dari tekanan yang dihadapi Pentagon. Langkah ini juga mencerminkan perubahan kebijakan di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump, yang menekankan postur militer global yang lebih terkendali.
Dukungan ke Israel dan Dampaknya
Selain Ukraina, AS juga telah menggelontorkan bantuan militer senilai USD 17,9 miliar untuk Israel sepanjang 2023—angka tertinggi sejak 1959. Dukungan ini mencakup pengiriman kit JDAM, teknologi yang mengubah bom konvensional menjadi amunisi berpemandu presisi.
Meski demikian, intensitas konflik Israel, termasuk perang 12 hari melawan Iran pada Juni 2025, turut memperparah tekanan pada logistik militer global.
Konflik Israel–Iran, yang berlangsung sejak 13 Juni 2025, menguras amunisi Israel hingga memaksa gencatan senjata pada 25 Juni. Laporan *NBC News* menyebutkan bahwa Israel kekurangan senjata penting, khususnya amunisi, setelah operasi militer skala besar. Hal ini juga berdampak pada cadangan AS sebagai pemasok utama.
Tantangan dan Langkah ke Depan
Menipisnya stok amunisi AS memunculkan pertanyaan tentang keberlanjutan kebijakan bantuan militer di masa depan. Pentagon kini fokus mengevaluasi inventaris senjata untuk memastikan kesiapan menghadapi ancaman global. Wakil Menteri Pertahanan Elbridge Colby menegaskan bahwa AS tetap berupaya memberikan opsi bantuan militer ke Ukraina, sejalan dengan tujuan mengakhiri konflik di wilayah tersebut.
Namun, keputusan untuk menghentikan sementara pengiriman senjata ke Ukraina telah menimbulkan kekhawatiran di Kyiv. Rusia dikabarkan memanfaatkan situasi ini untuk menggencarkan serangan, terutama di wilayah timur Ukraina.
Implikasi Global
Krisis amunisi ini tidak hanya berdampak pada AS, tetapi juga pada dinamika geopolitik global. Dengan menipisnya cadangan senjata, kemampuan AS untuk mendukung sekutu seperti Israel dan Ukraina dalam jangka panjang menjadi sorotan. Di sisi lain, gencatan senjata antara Israel dan Iran, yang dimediasi AS, menunjukkan upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan di Timur Tengah, meski risiko konflik bayangan melalui perang proksi tetap mengintai.
“Pentagon, kata dia, harus memeriksa kembali persediaan amunisinya,” tulis