BANGKOK, THAILAND– Bencana banjir dan tanah longsor menerjang sejumlah wilayah di Thailand, menewaskan enam orang dan berdampak pada lebih dari 230.000 warga sejak Juli lalu. Bencana ini dipicu oleh hujan deras akibat Badai Tropis Wipha yang melanda 12 provinsi, terutama di wilayah utara dan tengah negara itu.
Departemen Pencegahan dan Mitigasi Bencana Thailand melaporkan, banjir dan longsor telah menggenangi permukiman, merusak infrastruktur, dan memaksa warga menggunakan perahu plastik untuk menavigasi jalanan yang terendam air keruh.
“Kami memantau secara ketat dampak badai hujan Wipha dan berkoordinasi dengan provinsi-provinsi terdampak untuk membantu mereka yang membutuhkan,” ujar badan tersebut dalam pernyataan resmi di laman Facebook-nya, seperti dikutip AFP, Sabtu (2/8/2025).
Visual di media sosial memperlihatkan kondisi memprihatinkan: air bah berwarna cokelat membanjiri jalanan, karung pasir ditumpuk di depan rumah untuk menahan air, dan warga berjuang menyelamatkan harta benda.
Meski demikian, Departemen Meteorologi Kerajaan Thailand memprediksi curah hujan akan mereda dalam beberapa hari ke depan, memberikan harapan bagi upaya pemulihan.
Bencana ini menambah catatan kelam Thailand dalam menghadapi musim hujan tahunan antara Mei hingga Oktober. Para ilmuwan memperingatkan, perubahan iklim akibat aktivitas manusia telah memperparah intensitas cuaca ekstrem, meningkatkan risiko banjir dahsyat.
Sebagai perbandingan, banjir besar pada 2011 silam menewaskan lebih dari 500 orang dan merusak jutaan rumah di seluruh negeri.
Pemerintah Thailand kini fokus pada penyaluran bantuan dan evakuasi warga di wilayah terdampak. Masyarakat diimbau tetap waspada terhadap potensi longsor susulan dan banjir bandang, terutama di daerah pegunungan.