Bursa Efek Indonesia (BEI) menegaskan bahwa minat perusahaan untuk melantai di pasar modal Tanah Air tetap tinggi, meskipun Morgan Stanley Capital International (MSCI) memutuskan membekukan sementara rebalancing saham Indonesia.
Otoritas bursa memastikan langkah MSCI tersebut tidak mengendurkan niat perusahaan untuk melakukan penawaran umum perdana saham (IPO).
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, mengatakan jumlah pengajuan pencatatan saham baru masih stabil. Menurutnya, hingga kini tidak terlihat adanya penurunan minat dari perusahaan yang ingin menjadi emiten.
“Minat menjadi perusahaan tercatat saya tidak melihat penurunan. Dari sisi pengajuan (submission), jumlahnya relatif tidak berubah,” ujar Nyoman dalam konferensi pers di Gedung BEI, Rabu (28/1/2026).
BEI Kejar Target Transparansi Data MSCI
Direktur Utama BEI, Iman Rachman, menjelaskan bahwa pihaknya telah menjalin komunikasi intensif dengan MSCI sejak Desember 2025 hingga pertengahan Januari 2026. Fokus utama diskusi adalah pemenuhan permintaan transparansi data kepemilikan saham, yang menjadi sorotan utama MSCI.
BEI bersama Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) saat ini tengah menyiapkan penyempurnaan data kepemilikan saham dengan klasifikasi yang lebih rinci. Perbaikan tersebut mencakup pemisahan data investor institusi, seperti manajer investasi, sovereign wealth fund, hingga private equity.
“Kami sedang memformulasikan data apa saja yang bisa kami sampaikan. Proses diskusi ini kami targetkan rampung sebelum Mei,” kata Iman.
Saat ini, BEI dan KSEI telah menyajikan sembilan kategori data investor. Ke depan, klasifikasi tersebut akan diperluas dan diperdalam, khususnya untuk kelompok investor institusional.
Target IPO Tetap Ambisius
BEI tetap optimistis terhadap kinerja pasar perdana pada 2026 dengan target 50 perusahaan IPO, termasuk enam perusahaan kategori lighthouse. Meski jumlah IPO pada 2025 menurun menjadi 26 perusahaan dari 41 perusahaan pada 2024, total dana yang berhasil dihimpun justru meningkat.
Sepanjang 2025, nilai dana IPO mencapai US$1,1 miliar, naik dari US$900 juta pada 2024. Rata-rata dana yang dihimpun per emiten juga melonjak signifikan.
“Jumlah emiten memang turun, tapi nilai dananya meningkat. Rata-rata IPO sekarang sekitar Rp700 miliar, sebelumnya hanya Rp350 miliar,” jelas Nyoman.
Tekanan Pasar Dinilai Sementara
Di sisi lain, pasar saham memang sempat terguncang oleh pengumuman MSCI. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 7,35% ke level 8.320,56 pada penutupan perdagangan Rabu (28/1/2026), bahkan sempat memicu penghentian perdagangan sementara setelah penurunan menembus 8%.
Namun, analis menilai tekanan tersebut bersifat jangka pendek. Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyebut reaksi pasar terhadap isu MSCI biasanya tidak berlangsung lama.
“Berdasarkan pengalaman sebelumnya, dampak sentimen MSCI umumnya hanya terasa beberapa hari hingga satu–dua minggu,” ujarnya.
BEI pun optimistis perbaikan transparansi data yang tengah dilakukan dapat menjaga kepercayaan investor global sekaligus mempertahankan status Indonesia sebagai pasar berkembang.