Kabar dramatis datang dari Puncak Bondolan, Gunung Ungaran. Tim Basarnas harus berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan seorang balita 1,5 tahun yang suhu tubuhnya turun drastis hingga kondisi kritis pada Sabtu (11/4). Kejadian ini menjadi pengingat pahit bahwa gunung memiliki hukum alam yang tidak kenal kompromi, terutama bagi tubuh mungil seorang anak.
Batas Aman: Usia SD Jadi Standar Baru
Menanggapi insiden tersebut, pihak pengelola Basecamp Perantunan kini mengambil langkah tegas. Meski sebelumnya tidak ada aturan tertulis, kini mereka berkomitmen untuk melarang balita ikut mendaki.
“Komitmennya sekarang, kalau masih balita tidak diperbolehkan. Paling tidak usia Sekolah Dasar (SD) dengan pendampingan orang tua, itu baru boleh,” tegas Dwi Purnomo, pengelola basecamp. Langkah ini diambil karena cuaca di gunung sering kali tidak bersahabat dan sulit diprediksi, bahkan bagi pendaki dewasa sekalipun.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) turut memberikan sorotan tajam. Ketua IDAI Jakarta, Prof. Dr. dr. Rismala Dewi, menegaskan bahwa tidak ada angka pasti untuk usia mendaki, namun ada zona merah yang harus dihindari.
“Di bawah 5 tahun, apalagi di bawah 3 tahun, itu sangat rentan. Jika persiapan tidak matang dan tidak bisa memenuhi standar keamanan ekstra, jangan dulu bawa anak naik gunung,” ujar dr. Dewi.
Menurutnya, tubuh balita belum memiliki sistem pengaturan suhu yang sempurna seperti orang dewasa, sehingga mereka jauh lebih cepat kehilangan panas tubuh (hipotermia) saat terpapar udara dingin atau angin kencang.
Persiapan Bukan Sekadar Gendongan
Membawa anak naik gunung bukan hanya soal kuat menggendong, tetapi soal kesiapan preventif. Orang tua wajib memiliki:
-
Pengalaman Mendaki: Sudah paham medan dan penanganan darurat.
-
Tahapan Pengenalan: Mulai dari berkemah di kaki gunung sebelum mencoba mendaki ke puncak.
-
Peralatan Standar: Pakaian layering yang tepat, bukan sekadar jaket tebal biasa.