Pasar aset global terguncang hebat pada Jumat hingga Sabtu, 22 November 2025. Bitcoin sempat anjlok hingga 7,6 persen ke level US$80.553 sebelum bangkit kembali ke sekitar US$85.000, menandai bulan terburuknya sejak krisis besar kripto pada 2022. Tekanan serupa juga terjadi pada aset aman—emas Antam turun Rp7.000 menjadi Rp2.341.000 per gram, diikuti penurunan pada emas UBS dan Galeri24.
Gejolak ini menyeret kapitalisasi pasar kripto global jatuh ke bawah US$3 triliun untuk pertama kalinya sejak April 2025. Sepanjang November, Bitcoin sudah kehilangan sekitar 25 persen dari nilainya — penurunan bulanan terdalam sejak Juni 2022 saat runtuhnya Terra dan FTX mengguncang industri. Ethereum pun tak luput, merosot hingga 8,9 persen ke bawah US$2.700.
Penjualan Whale dan Arus Keluar ETF Jadi Biang Kerok
Tekanan jual pada Bitcoin dipicu oleh kombinasi aksi lepas dari investor besar dan arus keluar besar-besaran dari ETF Bitcoin di Amerika Serikat. Data CoinShares mencatat pemegang lebih dari 100.000 BTC telah menjual aset senilai US$5,98 miliar dalam empat pekan terakhir. Bahkan, seorang whale yang menyimpan Bitcoin sejak 2011 melepas seluruh kepemilikannya senilai US$1,3 miliar pada akhir Oktober.
ETF Bitcoin juga mengalami tekanan besar. Sepanjang November, arus keluar mencapai US$3,79 miliar, dengan IBIT milik BlackRock mencatat penarikan lebih dari US$2 miliar, termasuk US$523 juta hanya dalam satu hari pada 18 November. Ketidakpastian mengenai kemungkinan pemangkasan suku bunga Federal Reserve pada Desember semakin menekan sentimen investor terhadap aset berisiko.
Harga Emas Domestik Ikut Terkoreksi
Di Indonesia, harga emas juga mencatat penurunan dua hari beruntun. Harga buyback Antam turun ke Rp2.202.000 per gram, sementara emas UBS di Pegadaian melemah ke Rp2.404.000. Emas Galeri24 juga turut terkoreksi menjadi Rp2.396.000 per gram.
Di pasar global, harga emas spot ditutup melemah 0,3 persen ke US$4.065,14 per ons troi. Analis menilai penguatan dolar AS dan memudarnya ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed menjadi faktor utama yang menekan logam mulia yang tidak menawarkan imbal hasil.