JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan adanya lonjakan kejadian bencana hidrometeorologi basah, seperti banjir, serta bencana karhutla di beberapa daerah.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyampaikan bahwa intensitas curah hujan tinggi menjadi pemicu utama banjir yang melanda beberapa wilayah, termasuk Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah.
“Kejadian banjir dilaporkan terjadi di Kecamatan Banawa, Kabupaten Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah pada Jumat, (2/5) pukul 10.02 WITA.” jelas Abdul Muhari.
Hujan deras selama lebih dari dua jam membuat debit air Sungai di Kelurahan Ganti meluap, merendam pemukiman warga, dan membawa material yang menghalangi sebagian ruas jalan utama Donggala–Pasangkayu.
Menurut laporan BPBD Sulawesi Tengah, sebanyak 64 rumah di Kelurahan Ganti dan Boneoge terdampak. Penanganan cepat dilakukan dengan pengerahan alat berat dan pompa alkon guna mempercepat surutnya genangan air. Hingga Minggu (4/5), banjir telah surut dan warga mulai kembali ke rumah setelah proses pembersihan lumpur dilakukan oleh tim gabungan.
Sementara itu, di ujung timur Indonesia, banjir juga melanda Kabupaten Keerom, Papua. Kejadian tragis terjadi pada Selasa (22/4), saat banjir mendadak menggenangi rumah seorang warga di Distrik Skanto.
Korban berinisial JS (60), warga Kampung Saefen Empat Dua, ditemukan meninggal dunia setelah tidak sempat menyelamatkan diri saat air meluap pukul 11.00 WIT. Tim SAR gabungan berhasil mengevakuasi jasad korban pada Rabu (23/4).
Tak hanya banjir, bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) turut dilaporkan masih menghantui Kalimantan Tengah. Pada awal Mei, dua kebakaran terjadi di Kabupaten Lamandau dan Kotawaringin Barat dengan luas lahan yang terbakar mencapai 1,5 hektar. Kedua titik api telah berhasil dipadamkan pada Sabtu (3/5).
Namun, sejak 1 Januari hingga 4 Mei 2025, BNPB mencatat ada 38 kejadian karhutla dengan 180 hotspot di seluruh Kalimantan Tengah. Total lahan terbakar mencapai 25,46 hektar, dengan Kabupaten Sukamara menjadi wilayah terdampak terluas, yaitu 6,90 hektar, diikuti Barito Utara seluas 4,01 hektar. Saat ini, penyebab kebakaran masih diselidiki oleh aparat penegak hukum sesuai kewenangan wilayah.
Menanggapi situasi tersebut, BNPB meminta pemerintah daerah meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi musim kering maupun hujan ekstrem, terutama di 6 provinsi rawan karhutla yakni Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, Jambi, Riau, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Selatan, serta Kalimantan Timur sebagai wilayah penanganan khusus.
Selain itu, BNPB juga mengingatkan masyarakat agar mulai melakukan langkah mitigasi bencana untuk menghadapi potensi cuaca ekstrem. Upaya yang bisa dilakukan seperti membersihkan saluran air, menyiapkan area penampungan, memangkas dahan pohon yang rapuh, serta menyusun rencana evakuasi keluarga.
