PHNOM PENH, KAMBOJA – Konflik bersenjata antara Thailand dan Kamboja semakin memanas, dengan serangan udara dan artileri berat terus mengguncang wilayah perbatasan pada Senin (28/7/2025). Militer Thailand melancarkan bombardir di beberapa lokasi strategis, termasuk Kuil Ta Moan, hanya beberapa jam sebelum perundingan gencatan senjata dijadwalkan digelar di Malaysia.
Konflik yang telah memasuki hari kelima ini memicu kekhawatiran akan eskalasi lebih lanjut di kawasan ASEAN.
Menurut Juru Bicara Kementerian Pertahanan Kamboja, Maly Socheata, serangan Thailand dimulai sejak pukul 03.10 hingga 05.00 waktu setempat di area Kuil Ta Moan. “Thailand menjatuhkan bom dari pesawat di daerah An Ses serta beberapa lokasi lain. Bukan hanya itu, Thailand juga terus menggunakan bom klaster,” ujar Maly
Ia menambahkan bahwa serangan artileri berat juga menghantam berbagai wilayah di Kamboja, memperburuk situasi kemanusiaan.
Pertempuran ini berpusat pada sengketa perbatasan yang telah berlangsung selama lebih dari seabad, terutama di sekitar wilayah Segitiga Zamrud dan situs bersejarah seperti Kuil Preah Vihear. Ketegangan meningkat tajam sejak Kamis (24/7/2025), dengan keterlibatan jet tempur, tank, dan artileri berat dari kedua belah pihak.
Hingga kini, korban tewas mencapai puluhan orang, dengan lebih dari 200.000 warga sipil dari kedua negara terpaksa mengungsi.
Upaya Diplomasi di Tengah Gempuran
Meski pertempuran terus berlanjut, harapan untuk perdamaian masih terbuka. Malaysia, sebagai Ketua ASEAN 2025, menjadi tuan rumah perundingan gencatan senjata yang dijadwalkan dimulai pukul 15.00 waktu setempat.
Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, akan memimpin pertemuan tingkat tinggi antara Pemimpin Thailand, Phumtham Wechayachai, dan Perdana Menteri Kamboja, Hun Manet.
“Pemerintah Kamboja dan Thailand telah meminta saya untuk mencoba dan memfasilitasi perdamaian, jadi kami akan menyelenggarakan perundingan pada pukul 15.00,” kata Anwar, dikutip dari Bernama.
Namun, jalan menuju gencatan senjata tidaklah mulus. Thailand menegaskan bahwa Kamboja harus menunjukkan “ketulusan sejati” untuk menghentikan konflik, sementara Kamboja menuduh Thailand menggunakan senjata terlarang, termasuk bom klaster.
Tuduhan ini semakin mempersulit negosiasi, dengan kedua pihak saling menyalahkan atas eskalasi kekerasan.
Dampak Kemanusiaan dan Tekanan Internasional
Konflik ini telah menyebabkan krisis kemanusiaan yang signifikan. Lebih dari 80.000 warga Kamboja dan 100.000 warga Thailand telah dievakuasi dari zona konflik.
“Agresi militer Thailand selama empat hari terakhir telah memaksa 25.000 keluarga, setara dengan lebih dari 80.000 orang, mengungsi dari Provinsi Oddar Meanchey, Preah Vihear, dan Pursat,” ungkap Maly Socheata, seperti dilansir Khmer Times.
Tekanan internasional pun meningkat. Presiden AS, Donald Trump, turut campur dengan mendesak kedua negara untuk segera menghentikan permusuhan.
Dalam unggahannya di Truth Social, Trump mengklaim, “Mereka telah sepakat untuk segera bertemu dan segera menyusun gencatan senjata dan, pada akhirnya, perdamaian!” Namun, serangan yang terus berlanjut menunjukkan bahwa kesepakatan damai masih jauh dari kenyataan.
Perundingan di Malaysia menjadi titik kritis untuk meredakan konflik yang telah merenggut nyawa sedikitnya 34 orang, termasuk warga sipil dan militer.
Jika gagal, ancaman perang yang lebih luas mengintai, dengan potensi mengganggu stabilitas kawasan ASEAN.
Dunia kini menanti hasil dari dialog yang dimediasi Anwar Ibrahim, sambil berharap kedua negara dapat menemukan solusi diplomatik untuk mengakhiri pertikaian berdarah ini.