Tahun 2026 akan menjadi momen istimewa bagi para pengamat langit. Sepanjang tahun ini, empat fenomena gerhana—terdiri dari dua gerhana matahari dan dua gerhana bulan—akan menghiasi langit berbagai belahan dunia.
Meski kerap disebut sebagai “empat gerhana matahari”, rangkaian ini justru lebih penting karena menandai dimulainya periode yang oleh para astronom disebut sebagai “zaman emas” gerhana matahari.
Rangkaian tersebut dibuka dengan Gerhana Matahari Cincin pada 17 Februari 2026. Fenomena ini hanya dapat disaksikan di wilayah terpencil Antartika. Selama sekitar dua menit, Bulan akan menutupi hingga 96 persen bagian tengah Matahari, menciptakan efek “cincin api” yang dramatis.
Hanya segelintir peneliti di Stasiun Concordia (Prancis–Italia) dan Stasiun Mirny (Rusia) yang berpeluang menyaksikan langsung peristiwa langka tersebut.
Gerhana Bulan Total, Panggung Utama Indonesia
Bagi masyarakat Indonesia, sorotan utama terjadi pada 3 Maret 2026, saat Gerhana Bulan Total dapat diamati dari seluruh wilayah Nusantara. Fenomena yang kerap disebut Blood Moon ini membuat Bulan tampak berwarna merah tembaga akibat pembiasan cahaya Matahari oleh atmosfer Bumi.
Fase totalitas diperkirakan berlangsung mulai pukul 18.04 WIB hingga 19.02 WIB, menjadikannya salah satu peristiwa astronomi paling mudah dan indah untuk disaksikan dengan mata telanjang.
Gerhana Matahari Total Pertama di Eropa Sejak 1999
Memasuki paruh kedua tahun, perhatian dunia tertuju pada Gerhana Matahari Total 12 Agustus 2026. Jalur totalitasnya melintasi Greenland, Islandia, hingga Spanyol bagian utara. Peristiwa ini menjadi istimewa karena merupakan gerhana matahari total pertama yang dapat diamati dari daratan Eropa sejak 1999.
Secara keseluruhan, periode 2026–2028 menghadirkan enam gerhana matahari dalam rentang waktu yang relatif singkat—terdiri dari tiga gerhana total dan tiga gerhana cincin api. Puncaknya diprediksi terjadi pada 2 Agustus 2027, ketika gerhana matahari total dengan durasi luar biasa, mencapai 6 menit 22 detik, melintasi Spanyol selatan, Afrika Utara, hingga Timur Tengah. Tak heran jika fenomena ini dijuluki “eclipse of the century”.
Peluang Generasional bagi Pemburu Gerhana
Rangkaian gerhana 2026 ditutup dengan Gerhana Bulan Sebagian pada 28 Agustus 2026. Sayangnya, fenomena ini tidak dapat disaksikan dari Indonesia karena terjadi pada siang hari. Meski demikian, para astronom menilai periode 2026–2028 sebagai peluang generasional. Sebagian besar orang, menurut mereka, hanya berkesempatan menyaksikan satu gerhana matahari total sepanjang hidupnya.
Fenomena ini erat kaitannya dengan Siklus Saros, yaitu pola periodik yang mengatur kemunculan gerhana berdasarkan posisi Matahari, Bumi, dan Bulan.
“Tahun 2026 menandai awal dari periode emas singkat bagi para pemburu gerhana,” tulis Space.com.
