Suasana Senin (10/11) malam di sekitar Stasiun Metro Red Fort, New Delhi, awalnya berjalan seperti biasa — ramai oleh lalu lintas dan hiruk-pikuk kehidupan kota. Namun dalam sekejap, ketenangan itu pecah oleh suara ledakan keras yang mengguncang kawasan tersebut.
Sebuah mobil meledak di tengah jalan, menewaskan sedikitnya delapan orang dan melukai lebih dari 20 orang lainnya. Ledakan itu begitu dahsyat hingga beberapa kendaraan di sekitarnya tampak nyaris meleleh, dan suara ledakan terdengar hingga beberapa kilometer jauhnya.
Polisi masih menyelidiki penyebab pasti ledakan tersebut. Namun, fakta bahwa peristiwa ini terjadi di salah satu area paling aman dan sibuk di Delhi membuat banyak warga terkejut.
Lokasi kejadian berada di antara Chandni Chowk, kawasan perdagangan dan pusat busana yang sedang padat menjelang musim pernikahan, dan Benteng Merah (Red Fort) abad ke-17 yang setiap hari dipadati ribuan wisatawan. Jalan yang menghubungkan kedua kawasan inilah yang menjadi titik ledakan. Dalam hitungan menit, kepanikan dan kebingungan menyebar ke seluruh penjuru kota.
Kepanikan dan Kesaksian Mengerikan
Mohamed Hafiz, warga yang rumahnya hanya berjarak kurang dari 200 meter dari lokasi kejadian, mengira terjadi gempa bumi ketika getaran kuat mengguncang dinding rumahnya. Namun yang ia lihat di luar membuatnya terpaku ketakutan.
“Orang-orang berlarian ke segala arah, mobil terbakar, dan tubuh-tubuh bergelimpangan di jalan. Darah di mana-mana… suasananya terlalu mengerikan, bahkan ada bagian tubuh berserakan,” ujarnya dengan suara bergetar, dilansir dari BBC.
Begitu berita tersebar melalui media lokal, gelombang kepanikan melanda Delhi. Polisi langsung menetapkan status siaga tinggi, dan negara bagian di sekitar ibu kota turut memperketat keamanan.

Kota dalam Ketegangan
Ketika petugas melintasi perbatasan antara Noida dan Delhi, antrean panjang kendaraan terlihat di pos pemeriksaan. Polisi memeriksa setiap mobil satu per satu, sementara raut tegang tampak di wajah semua orang — baik petugas maupun warga — seolah tak percaya bahwa ledakan mematikan ini terjadi di kota yang selama lebih dari satu dekade relatif aman dari serangan besar.
Jalanan menuju Rumah Sakit Lok Nayak, tempat para korban dirawat, tampak lengang. Di luar rumah sakit, ratusan orang berkerumun di balik garis polisi, mencari kabar tentang kerabat mereka.
Di antara mereka ada Mohammed Azghar, yang kehilangan kontak dengan saudaranya sejak ledakan terjadi. “Saudara saya biasa mengemudikan becak listrik di daerah itu. Polisi memang sudah menyita kendaraannya, kami tidak masalah dengan itu — tapi tolong bantu kami menemukan dia,” katanya putus asa. “Saya hanya ingin kabar, entah baik atau buruk.”
Kawasan Sunyi, Warga Masih Trauma
Ketika wartawan tiba di lokasi kejadian, pemandangan yang tersisa begitu memilukan. Jalanan yang biasanya padat kini kosong, hanya dijaga aparat dan dipenuhi kendaraan media. Sisa-sisa mobil, becak, dan bajaj tampak hangus dan hancur tak berbentuk. Noda darah masih terlihat di aspal.
Sebagian warga berdiri terpaku, masih berusaha memahami tragedi yang baru saja mengguncang mereka.
Ram Singh, pengemudi angkutan barang kecil di sekitar kawasan tersebut, mengaku cemas akan dampak ekonomi yang akan ia rasakan. “Saya hidup dari penghasilan harian. Kalau situasi begini terus, bagaimana saya memberi makan keluarga?” ujarnya lirih. “Saya berharap rasa aman bisa segera kembali, dan semoga hal seperti ini tidak pernah terjadi lagi di kota kami.”