JAKARTA – Petenis Amerika Serikat, Coco Gauff, mendapat dukungan dari dua legenda tenis dunia, Chris Evert dan Martina Navratilova, setelah menjadi sasaran serangan rasis di media sosial seusai pertandingan China Open 2026.
Juara dua kali Grand Slam itu menghadapi komentar bernada rasis dan tuduhan kecurangan setelah mengalahkan petenis China berusia 16 tahun, Sun Xinran, pada babak ketiga di Beijing.
Chris Evert, pemilik 18 gelar Grand Slam tunggal, mempertanyakan alasan publik menyerang Gauff atas keputusan pertandingan yang telah ditinjau dan disahkan oleh wasit.
“Mengapa para pembenci menyerang Coco Gauff? Dia melakukan semuanya sesuai aturan,” tulis Evert melalui X seperti dilansir Complex, Minggu (11/10/2026).
“Sejujurnya, Coco adalah salah satu manusia paling tulus, penuh perhatian, dan rendah hati yang pernah Anda temui. Dia dicintai semua orang di dunia tenis. Sangat meresahkan melihat dia harus mengalami situasi seperti ini,” lanjutnya.
Martina Navratilova, yang juga mengoleksi 18 gelar Grand Slam tunggal, turut menyatakan dukungannya terhadap Gauff.
“Para pembenci akan selalu membenci. Ini benar-benar tidak masuk akal. Saya setuju denganmu,” balas Navratilova kepada Evert.
Kronologi Kontroversi Coco Gauff
Kontroversi bermula saat Gauff menghadapi Sun dalam pertandingan babak ketiga China Open yang berakhir dengan skor 7-5, 6-1.
Ketika melakukan servis pada kedudukan 4-5 dan 15-15 di set pertama, Gauff mengangkat tangan untuk menghentikan reli panjang setelah melihat papan iklan elektronik di tepi lapangan berkedip dan berganti tampilan.
Sun kemudian memukul bola yang berpotensi menghasilkan poin kemenangan, yang bisa membawanya semakin dekat untuk merebut set pertama.
Namun, wasit utama meninjau rekaman video dan memutuskan perubahan tampilan iklan tersebut mengganggu jalannya reli.
Poin pun diulang, dan Gauff berhasil memenangkannya sebelum akhirnya mengamankan pertandingan.
Meski keputusan tersebut diambil oleh wasit, Gauff tetap menerima tuduhan curang, komentar rasis, serta pesan langsung bernada diskriminatif melalui media sosial.
Coco Gauff Tegaskan Tidak Melakukan Kecurangan
Gauff kemudian menanggapi serangan tersebut melalui akun X dengan menegaskan bahwa perbedaan pendapat mengenai keputusan pertandingan tidak membenarkan tindakan rasis.
“Hai semuanya, kalian boleh tidak menyukai saya atau tidak setuju dengan kejadian tersebut tanpa bersikap rasis,” tulis Gauff.
“Jumlah komentar dan pesan langsung bernada rasis yang saya terima dalam beberapa jam terakhir sungguh di luar batas. Terakhir, saya bukan penipu atau pencuri,” tegasnya.
Gauff juga membagikan penjelasan yang sebelumnya diunggah melalui Threads mengenai insiden tersebut.
Ia mengaku sempat melihat perubahan tampilan iklan ketika reli berlangsung, tetapi awalnya mempertanyakan apakah penglihatannya benar.
Kelelahan Paksa Gauff Mundur dari Wuhan Open
Di tengah kontroversi tersebut, Gauff juga menghadapi masalah kebugaran yang memengaruhi penampilannya di China Open.
Langkah petenis berusia 22 tahun itu terhenti pada babak keempat setelah kalah 3-6, 3-6 dari Elise Mertens.
Dalam pertandingan tersebut, Gauff mengaku kesulitan melanjutkan permainan akibat kehabisan energi dan merasa hampir pingsan.
“Saya tidak punya energi. Saya sedang berusaha, tetapi benar-benar kehabisan tenaga. Saya tidak bisa melihat bola dan merasa akan pingsan,” kata Gauff.
“Saya akan berusaha menyelesaikan pertandingan ini,” lanjutnya.
Setelah turnamen tersebut, Gauff memutuskan mundur dari Wuhan Open, tempat ia berstatus juara bertahan.
“Saya kecewa harus mundur dari Wuhan, terutama karena saya berstatus juara bertahan. Saya selalu senang bermain di sana,” ujarnya.
“Setelah menjalani tahun yang panjang, tubuh saya membutuhkan waktu untuk beristirahat dan memulihkan diri. Saya berharap bisa kembali bertanding di sana tahun depan,” tambah Gauff.
Dukungan Evert dan Navratilova menegaskan bahwa perdebatan mengenai keputusan pertandingan seharusnya tetap berada dalam koridor sportivitas, tanpa berubah menjadi serangan rasis terhadap seorang atlet.***