BANDUNG BARAT – Di tengah upaya pemulihan pascabencana tanah longsor dahsyat yang melanda Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, sejak 24 Januari 2026, seorang chef asal Prancis turut berjuang membantu para penyintas. David Caileba, executive chef berpengalaman, rela meninggalkan tugas manajerialnya di hotel bintang lima untuk menjadi relawan di dapur umum pengungsian.
Setiap hari, David sigap mengolah bahan makanan bersama tim relawan lainnya guna menyajikan sekitar 2.100 paket makanan bagi para pengungsi yang kehilangan tempat tinggal akibat longsor tersebut. Kehadirannya tidak hanya memenuhi kebutuhan pangan, tetapi juga membawa semangat dan kegembiraan di tengah suasana duka.
David, yang telah tinggal di Indonesia selama 16 tahun, mengaku Tanah Air bukan lagi tempat asing baginya. Perjalanannya dimulai pada 2007, awalnya di Sumatera, kemudian menetap 14 tahun di Bali, sebelum pindah ke wilayah Bandung Barat selama satu tahun terakhir.
“Saya orang Prancis, pindah ke Indonesia tahun 2007. Dulu di Sumatera, lalu ke Bali selama 14 tahun, dan sekarang sudah satu tahun lebih di sini. Total 16 tahun di Indonesia,” ujar David saat ditemui di dapur umum bencana longsor Cisarua, Bandung Barat, Kamis (29/1).
Meski biasanya lebih fokus pada manajemen dapur di level profesional, kabar longsor di Cisarua langsung menggugah hatinya. Informasi kebutuhan relawan ia dapatkan melalui grup WhatsApp Indonesia Chef Association (ICA), organisasi yang pernah ia ikuti sebelumnya.
“Saya dapat info di grup WhatsApp ICA ada bencana dan butuh relawan ke Cisarua. Jaraknya juga tidak jauh dari rumah saya, sekitar 33 kilometer, jadi saya putuskan datang untuk bantu masak,” katanya.
Sebelum terlibat di dapur umum ini, David sudah aktif dalam kegiatan sosial. Dalam dua bulan terakhir, ia rutin memproduksi roti dan makanan untuk dibagikan dalam program Jumat Berkah di sekitar Bandung.
Di lokasi pengungsian, David bekerja sama erat dengan relawan lokal dan petugas. Ia mengapresiasi tinggi kerja keras semua pihak dalam menjaga kebersihan, sanitasi, dan kelancaran distribusi makanan.
Untuk menghindari kebosanan bagi para pengungsi, menu disajikan secara variatif setiap harinya. Pada hari itu, misalnya, tersedia ayam saus Inggris, ayam bumbu manis, terong balado, serta sambal. Sementara menu sarapan sebelumnya mencakup nasi putih, ikan tongkol, oseng kangkung, tahu goreng, kerupuk, dan air mineral.
“Menunya beda-beda setiap hari. Kemarin bahkan ada tortilla khas Spanyol,” ujarnya.
Proses memasak dilakukan sekali untuk setiap waktu makan guna menjaga kualitas dan kesegaran hidangan. Keikutsertaan David menjadi bukti nyata bahwa solidaritas kemanusiaan melampaui batas negara. Kontribusinya tak sekadar menyediakan makanan, melainkan juga memperkuat harapan dan semangat pemulihan bagi ratusan korban longsor yang kini masih berjuang bangkit dari musibah.