TAPANULI SELATAN – Presiden Prabowo Subianto melanjutkan agenda kerja lapangan ke Aceh Tamiang pada Kamis (1/1) untuk memastikan progres pembangunan hunian sementara bagi warga terdampak banjir dan longsor.
Kunjungan ini dilakukan setelah Prabowo merayakan pergantian tahun bersama warga terdampak bencana di Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.
Hunian sementara (Huntara) yang akan ditinjau di Aceh Tamiang dibangun oleh Danantara sebagai solusi awal bagi masyarakat yang kehilangan tempat tinggal akibat bencana alam.
Sebelum bertolak, Prabowo tiba di helipad PTPN IV Tapanuli Selatan dan menyempatkan diri menyapa warga yang telah menunggu sejak pagi.
Dalam suasana hangat, Prabowo menyalami masyarakat serta memeluk anak-anak yang hadir mengiringi keberangkatannya.
Menggunakan helikopter TNI Angkatan Udara, Prabowo lepas landas dari helipad sekitar pukul 09.20 WIB.
Penerbangan tersebut membawa Prabowo menuju Bandar Udara Raja Sisingamangaraja XII Silangit di Tapanuli Utara.
Setibanya di Bandara Silangit, Prabowo melanjutkan perjalanan ke Landasan Udara Soewondo di Medan.
Dari Medan, Prabowo kembali menggunakan helikopter untuk menuju Kabupaten Aceh Tamiang.
Keberangkatan Prabowo turut didampingi sejumlah pejabat daerah dan aparat keamanan.
Mereka antara lain Dansat Brimob Polda Sumut Kombes Pol Rantau Isnur Eka, Bupati Tapanuli Selatan Gus Irawan Pasaribu, serta Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution.
Sebelumnya di wilayah Tapanuli, Prabowo meninjau langsung jembatan bailey di Sungai Garoga, Kecamatan Batang Toru, yang telah rampung dibangun.
Setelah itu, Prabowo mengecek kondisi posko pengungsian dan layanan kesehatan di Desa Batu Hula.
Pada malam hari, Prabowo kembali mendatangi posko pengungsian untuk menyambut malam pergantian tahun bersama warga.
Dalam momen tersebut, Prabowo mengajak masyarakat untuk berdoa bersama sebagai bentuk penguatan moral dan kebersamaan.
Prabowo juga berbaur, berdialog, dan bernyanyi bersama warga serta anak-anak korban bencana.
Langkah ini menegaskan pendekatan kemanusiaan Prabowo yang tidak hanya fokus pada pembangunan fisik, tetapi juga pemulihan psikologis warga terdampak.***