JAKARTA – Para pembalap MotoGP menyoroti padatnya kalender musim 2025 yang mencatat 22 seri dengan total 44 balapan, termasuk sprint race. Fabio Di Giannantonio menjadi salah seorang yang paling vokal menyebut jadwal tersebut terlalu membebani fisik dan mental rider.
“Terlalu banyak (balapan). Terlalu banyak hari perjalanan, terlalu banyak untuk tubuh. 44 balapan, (itu) terlalu banyak,” ujar pembalap VR46 di Valencia, dilansir dari Motorsport, Sabtu (27/12/2025). Ia menambahkan, minimnya waktu latihan membuat kondisi fisik pembalap wajar mengalami penurunan sepanjang musim.
Komentar senada datang dari Johann Zarco (LCR), yang menilai tubuh pembalap kesulitan menjaga energi penuh hingga akhir musim. “Kami bisa merasakan ada beban dari 22 balapan. Tubuh ini agak kesulitan. Jadi mungkin kami mencapai akhir pekan dengan 70 persen atau 80 persen energi, bukan 100 persen,” katanya.
Marco Bezzecchi menilai tuntutan kalender sangat berat, tetapi hasil balapan juga memengaruhi cara rider memandang jadwal. Setelah menutup musim dengan dua kemenangan di Portimao dan Valencia, ia menyebut performa baik membuat balapan terasa lebih cepat dan menyenangkan.
Ekspansi MotoGP ke Asia
Francesco Bagnaia dari Ducati menyambut positif ekspansi MotoGP ke pasar Asia, meski berharap musim berakhir lebih cepat. “Kami siap untuk semuanya dan saya pikir adil untuk memiliki kalender seperti ini,” ujarnya.
Sementara itu, Pedro Acosta (KTM) menilai jumlah balapan sudah tepat, tetapi mengingatkan risiko cedera kini lebih besar. “Biasanya, di masa lalu, Anda kehilangan satu atau dua balapan, dan sekarang Anda bisa kehilangan empat balapan berturut-turut jika cedera Anda tidak terlalu parah,” ungkapnya.