BEIJING, CHINA – Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mendarat di Beijing pada Rabu (28/1/2026), menandai kunjungan resmi pertama seorang pemimpin Inggris ke China sejak 2018. Kunjungan ini bertujuan membangun kembali hubungan bilateral yang sempat membeku akibat berbagai ketegangan, sekaligus membuka peluang perdagangan dan investasi di tengah dinamika geopolitik global yang semakin kompleks.
Dilansir dari berbagai sumber internasional, kedatangan Starmer disambut sebagai bagian dari tren pemimpin Barat mendekati Beijing dalam beberapa pekan terakhir. Kunjungan ini terjadi setelah lawatan Perdana Menteri Kanada Mark Carney dan pemimpin negara lain, di saat hubungan dengan Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump menunjukkan ketidakpastian, termasuk ancaman tarif tinggi terhadap mitra dagang yang mendekati China.
Didampingi delegasi besar beranggotakan hampir 60 perusahaan dan organisasi budaya Inggris—termasuk raksasa seperti Airbus, AstraZeneca, HSBC, GSK, Jaguar Land Rover, serta National Theatre—Starmer menekankan pentingnya keterlibatan pragmatis dengan China. Ia menyatakan kunjungan ini sebagai langkah strategis untuk mendukung pertumbuhan ekonomi Inggris dan kesejahteraan rakyatnya.
Puncak agenda adalah pertemuan pada Kamis (29/1/2026) dengan Presiden China Xi Jinping dalam acara makan siang, dilanjutkan diskusi dengan Perdana Menteri Li Qiang. Downing Street menyebut agenda mencakup penguatan kerja sama perdagangan, investasi di sektor jasa keuangan, industri kreatif, serta ilmu hayat, sambil tetap menjaga prinsip keamanan nasional.
“Akan menjadi perjalanan yang sangat penting bagi kami,” ujar Starmer.
Ia menambahkan bahwa sikap mengabaikan China tidak realistis. “Tidak masuk akal untuk mengubur kepala kita di pasir ketika menyangkut China. Adalah kepentingan kita untuk terlibat dan tidak berkompromi pada keamanan nasional,” tambahnya.
Dari pihak China, juru bicara Kementerian Luar Negeri Guo Jiakun menyatakan kesiapan memanfaatkan kunjungan ini untuk memperkuat kepercayaan politik timbal balik. Beijing menilai pertemuan ini sebagai momentum positif di tengah upaya memperbaiki relasi yang sempat tegang karena isu Hong Kong, dugaan spionase, serta dukungan China terhadap Rusia di Ukraina.
Starmer juga dijadwalkan melanjutkan perjalanan ke Jepang untuk bertemu Perdana Menteri Sanae Takaichi, memperluas jaringan diplomasi di Asia. Pemerintah Inggris menegaskan pendekatan “clear-eyed” terhadap China: terbuka pada peluang ekonomi tanpa mengorbankan kepentingan keamanan nasional dan nilai-nilai hak asasi manusia.
Kunjungan ini mendapat sorotan tajam, termasuk kritik dari oposisi Partai Konservatif yang menilai Starmer kurang tegas menghadapi ancaman China. Namun, pemerintahan Partai Buruh menegaskan bahwa keterlibatan konstruktif justru memperkuat posisi Inggris di panggung dunia yang semakin tidak stabil.
Kunjungan ini diharapkan menghasilkan kemajuan konkret, termasuk potensi kemudahan visa dan akses pasar yang lebih luas, di saat Inggris berupaya mengurangi ketergantungan pada mitra Barat yang fluktuatif.