BEIJING, CHINA – Seorang jenderal militer senior China, Zhang Youxia, tengah menjadi sorotan setelah dituduh membocorkan informasi rahasia tentang program senjata nuklir negaranya ke Amerika Serikat (AS). Selain itu, ia juga diduga terlibat dalam praktik suap untuk memperlancar promosi pejabat tinggi di lingkungan militer.
Laporan eksklusif dari The Wall Street Journal (WSJ) yang dirilis pada Minggu (25/1/2026) mengungkap detail tuduhan ini. “Youxia dituduh membocorkan informasi tentang program senjata nuklir negara tersebut kepada AS,” bunyi laporan WSJ.
“Jenderal militer itu juga sedang diselidiki karena menerima suap untuk tindakan resmi, termasuk promosi seorang perwira menjadi menteri pertahanan,” lanjut laporan media Amerika tersebut.
Berdasarkan sumber yang mengetahui pengarahan internal tingkat tinggi, WSJ menyebut Zhang diduga menerima imbalan untuk memfasilitasi kenaikan jabatan, termasuk pengangkatan Li Shangfu—yang dipecat karena korupsi pada 2023—sebagai menteri pertahanan.
Pengarahan rahasia tersebut digelar pada Sabtu lalu dan dihadiri para perwira elite militer China, tepat sebelum Kementerian Pertahanan Nasional mengumumkan penyelidikan mendadak. Dalam pernyataan resminya, kementerian menyatakan dua jenderal senior sedang disidik atas “pelanggaran disiplin serius”. Mereka adalah Zhang Youxia (75), wakil ketua senior Komisi Militer Pusat (CMC), dan Liu Zhenli (61), Kepala Staf Gabungan CMC.
“Setelah peninjauan, telah diputuskan untuk memulai penyelidikan terhadap Zhang Youxia dan Liu Zhenli,” kata kementerian tersebut. “Keduanya diduga melakukan pelanggaran disiplin dan hukum yang serius,” lanjut pengumuman itu, tanpa menjelaskan rincian pelanggaran.
Sebagai tokoh kunci di CMC, Zhang Youxia juga menjabat sebagai anggota Politbiro, organ eksekutif Partai Komunis China yang beranggotakan 24 orang. Ia berbagi posisi wakil ketua dengan Zhang Shengmin, jenderal dari Pasukan Roket China yang dikenal tertutup dan tidak memiliki ikatan keluarga politik. Zhang Shengmin naik pangkat pada Oktober lalu, menyusul pemecatan pendahulunya dalam gelombang pembersihan korupsi skala besar. Kedua wakil ketua ini berada langsung di bawah komando Presiden Xi Jinping, yang menjabat Ketua CMC sejak 2012.
Sementara itu, Liu Zhenli bertanggung jawab atas perencanaan strategi operasi tempur militer China. Isu penyelidikan terhadap keduanya mulai mencuat sejak pekan lalu, setelah absennya mereka dari rapat resmi yang dipimpin Xi Jinping dan dihadiri wakil ketua CMC lainnya, Zhang Shengmin.
Presiden Xi Jinping kerap menekankan korupsi sebagai “ancaman terbesar” bagi Partai Komunis China, dengan menyatakan bahwa “perjuangan melawan korupsi tetap serius dan kompleks”. Pendukung kebijakannya menyebut langkah ini mempromosikan tata kelola yang lebih transparan, meski para kritikus menilai hal tersebut juga dimanfaatkan untuk menyingkirkan rival politik.
Kasus ini menambah daftar panjang pembersihan di kalangan militer China. Pada Oktober tahun lalu, Beijing mengumumkan investigasi korupsi terhadap sembilan pejabat tinggi angkatan bersenjata, yang berujung pada pemecatan dua jenderal: He Weidong (mantan wakil ketua CMC) dan Miao Hua (mantan kepala departemen kerja politik militer).
Sebelumnya, pada 2024, mantan Menteri Pertahanan Li Shangfu dikeluarkan dari partai atas tuduhan suap dan pelanggaran lainnya. Pendahulunya, Wei Fenghe, juga dipecat dan diserahkan ke jaksa atas dugaan korupsi serupa.
Penyelidikan ini memicu spekulasi mengenai stabilitas kepemimpinan militer China di tengah ketegangan geopolitik global, termasuk isu Taiwan dan Laut China Selatan. Pihak berwenang China belum memberikan komentar lanjutan, sementara pemerintah AS juga belum merespons tuduhan pembocoran rahasia nuklir tersebut.
