Di tengah hantaman badai depresiasi yang membuat nilai tukar Rupiah tersungkur terhadap Dolar Amerika Serikat (AS), pemerintah bergerak cepat memberikan kepastian. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjamin tren pelemahan mata uang ini tidak akan mengusik harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi di dalam negeri.
Pernyataan menyejukkan ini keluar setelah data finansial makro menunjukkan tekanan yang kian nyata. Melansir data Refinitiv pada perdagangan Selasa (19/5/2026) siang, Rupiah terpantau melemah lagi 0,51% ke level Rp17.730/US$, melanjutkan tren negatif hari sebelumnya yang sempat anjlok 1,03%.
Meski pasar finansial global sedang bergejolak, Menkeu Purbaya menegaskan bahwa benteng Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sudah dipersiapkan matang sejak awal tahun untuk mengantisipasi skenario terburuk ini.
“Anggaran sudah kita hitung sebelumnya itu,” ujar Purbaya dengan santai namun tegas usai menghadiri Rapat Koordinasi di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (19/5/2026).
Saat dikejar pertanyaan oleh awak media mengenai potensi adanya penyesuaian harga bensin ataupun solar dalam waktu dekat, Purbaya menjawabnya dengan singkat dan mutlak.
“Nggak (ada kenaikan harga),” serunya.
Hitung-hitungan Menteri Bahlil: ICP Masih di Bawah Ambang Batas
Sinyal hijau juga ditiupkan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia. Berada di lokasi yang sama, Bahlil membeberkan kalkulasi realisasi rata-rata Harga Minyak Mentah Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP) yang menjadi kompas penentu kebijakan subsidi energi nasional.
Bahlil menjelaskan bahwa sesuai dengan arahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto, batas aman toleransi rata-rata ICP yang dipatok pemerintah sebenarnya berada di angka US$100 per barel.
“Kalau kita hitung dari Januari sampai sekarang, harga minyak dunia memang naik turun. Sempat menyentuh US$80, US$90, bahkan US$117. Tapi kalau ditarik rata-ratanya, saat ini masih bertengger di kisaran **US$80-81 per barel**. Jadi posisinya belum menembus batas US$100, insyaallah harga BBM subsidi tidak akan naik,” urai Bahlil optimis.
Garansi Aman hingga Akhir Tahun 2026
Komitmen pemerintah untuk menjaga daya beli masyarakat dipastikan akan bertahan setidaknya hingga akhir tahun 2026. Di akhir penjelasannya, Bahlil juga menepis mentah-mentah rumor liar yang beredar mengenai rencana penghapusan subsidi BBM secara total dalam waktu dekat.
Ia menjamin pasokan energi maupun pasokan dana untuk menyokong kebutuhan hidup masyarakat bawah tetap melimpah dan aman di dalam brankas negara.
“Insya Allah (harga BBM subsidi tetap bertahan) sampai akhir tahun ini. Tidak ada konsep atau rencana pemerintah untuk menghapus subsidi tersebut ya. Anggaran kita cukup dong,” pungkas Bahlil menyudahi perbincangan.