Saat peluit panjang babak kedua berbunyi di Stadion Atlanta, kamera langsung menyorot wajah Vozinha. Air mata mengalir deras di pipi penjaga gawang berusia 40 tahun itu. Ia menangis bukan karena kalah, melainkan karena tidak kuasa menahan beban emosional dari sejarah luar biasa yang baru saja ia ukir: menahan imbang raksasa dunia, Spanyol, dengan skor kacamata 0-0.
Stadion seketika bergemuruh. Ribuan pendukung Tanjung Verde (Cape Verde) yang tak berhenti bernyanyi selama 90 menit langsung berpelukan, menari, dan merayakan hasil paling monumental sepanjang sejarah negara mereka. Bahkan, para penonton netral pun larut dalam pesta keajaiban ini. Di hadapan juara Eropa, Spanyol, Vozinha menampilkan performa terbaik dalam hidupnya.
Dedikasi Air Mata untuk Mendiang Kakek-Nenek dan Ibu
Usai dinobatkan sebagai Player of the Match (Pemain Terbaik), Vozinha mengungkap alasan di balik tangisannya yang pecah di lapangan. Ada kisah keluarga yang menyayat hati di balik ketangguhannya di bawah mistar gawang.
“Saya menangis karena saya tumbuh besar bersama kakek dan nenek saya. Sayangnya mereka tidak ada di sini, mereka meninggal beberapa tahun lalu. Mereka adalah segalanya bagi hidup saya,” tutur Vozinha emosional.
“Saya juga menangis karena ibu saya. Beliau tidak bisa hadir langsung di stadion karena masalah visa. Biaya yang harus dibayar untuk pengurusan visa sangat mahal dan kami tidak berhasil menyelesaikannya tepat waktu. Saya sangat berharap beliau bisa ada di sini.”
Bagi Vozinha, kekuatan utama Tanjung Verde—negara kepulauan kecil di barat Afrika dengan penduduk hanya sekitar 500 ribu jiwa—bukanlah taktik tak beralasan, melainkan ikatan kekeluargaan.
Sang Pembuat Sejarah: Melawan Diskriminasi Fisik dan Usia
Lahir dengan nama asli Josimar Dias, perjalanan karier Vozinha adalah potret nyata dari sebuah kegigihan. Nama ‘Josimar’ sendiri diberikan ayahnya, terinspirasi dari bek legendaris Brasil di Piala Dunia 1986.
Siapa sangka, kiper yang kini bermain di kasta kedua Liga Portugal bersama Chaves ini sempat menghadapi jalan buntu saat muda di kampung halamannya, Mindelo.
“Saya salah satu kiper terbaik di pulau saya, tapi tubuh saya kecil. Meski tampil bagus, saya sering tidak dipilih hanya karena tinggi badan,” kenangnya.
Vozinha baru memulai karier profesional di usia 25 tahun (2012), usia yang sangat terlambat bagi seorang pesepak bola. Ia bahkan sempat frustrasi dan berniat pensiun dari tim nasional.
Namun, keputusan untuk bertahan berbuah manis di Piala Dunia 2026. Pada usia 40 tahun 12 hari, ia memecahkan rekor sebagai pemain tertua yang tampil dalam laga debut sebuah negara di Piala Dunia.
Statistik Gila Vozinha vs Spanyol
Menghadapi gempuran tanpa henti dari lini serang Spanyol, kiper veteran ini berdiri sekokoh tembok karang.
Vozinha jatuh bangun menepis tujuh peluang emas Spanyol. Di atas usia 40 tahun, hanya legenda Irlandia Utara, Pat Jennings (10 penyelamatan pada tahun 1986), yang mencatatkan penyelamatan lebih banyak darinya dalam satu laga Piala Dunia.
Berkat performa heroiknya, pengikut akun Instagram Vozinha langsung meledak dari 50.000 menjadi lebih dari 5 juta pengikut hanya dalam semalam, usai kanal YouTube raksasa Brasil, CazeTV, mengajak penontonnya menyerbu akun sang kiper.