Operasi maraton pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan yang telah berlangsung selama empat bulan nonstop mulai berdampak serius terhadap kondisi kesehatan personel Manggala Agni. Paparan asap pekat, sengatan panas api, serta medan gambut yang ekstrem menguras stamina para petugas di garis depan.
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan (Dalkarhut) Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, mengungkapkan bahwa penurunan kondisi fisik mayoritas dialami oleh personel yang menginap di tenda-tenda darurat di sekitar titik api.
“Kawan-kawan Manggala Agni di lapangan mulai banyak mengalami gangguan kesehatan, terutama mereka yang bertahan dan tinggal di tenda-tenda lokasi karhutla,” ujar Ferdian, Jumat (9/10/2026) dilansir dari Kompas.
Ancaman Asap dan Kelelahan Ekstrem
Ferdian menjelaskan bahwa risiko yang dihadapi pasukan pemadam tidak hanya berasal dari ancaman kobaran api dan asap beracun, melainkan juga durasi operasi pemadaman yang sangat panjang. Medan yang makin sulit dijangkau menuntut kewaspadaan tinggi dan tenaga ekstra tanpa henti.
Meski diterpa masalah kesehatan akibat kelelahan fisik dan paparan asap, hingga saat ini belum ada anggota yang harus dirujuk untuk penanganan medis intensif.
“Tim di lapangan terus menerapkan langkah-langkah pencegahan dan penanganan medis mandiri untuk menjaga kondisi kesehatan personel agar tetap dapat bertugas secara aman,” tambahnya.
Titik Pemadaman Masih Membara di Empat Kabupaten
Hingga saat ini, tim gabungan Manggala Agni masih terus berjibaku melokalisasi dan memadamkan sebaran titik api yang tersebar di empat kabupaten di Sumatera Selatan:
-
Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI): Desa Riding (Kecamatan Pangkalan Lampam), Menang Raya (Kecamatan Pedamaran) di sekitar Tol Terpeka KM 309, dan Desa Pulu Beruang (Kecamatan Tulung Selapan).
-
Kabupaten Muara Enim: Desa Putak (Kecamatan Gelumbang).
-
Kabupaten Musi Banyuasin (Muba): Dusun 7 Muara Medak.
-
Kabupaten Ogan Ilir: Wilayah Kecamatan Pemulutan.