JAKARTA – Gelombang suhu panas ekstrem yang melanda Eropa Selatan memicu kebakaran hutan dahsyat di Yunani, mengancam kota Patras, pusat metropolitan terbesar ketiga di negeri itu.
Cuaca terik hingga 38°C disertai hembusan angin kencang mendorong kobaran api bergerak cepat dari pegunungan menuju wilayah berpenduduk padat, memaksa evakuasi besar-besaran, termasuk sebuah rumah sakit anak, dan menyelimuti langit kota dengan asap tebal.
Sejak awal pekan, sedikitnya 10.000 hektare lahan di wilayah Achaia hangus terbakar.
Desa-desa di sekitar Patras dikosongkan total, sementara rumah, toko, dan ratusan kendaraan—termasuk lebih dari 500 mobil di area bea cukai—menjadi abu.
Jalan-jalan utama kota nyaris sepi, hanya menyisakan sejumlah warga yang berjaga di tepi pemukiman, memandang api yang semakin mendekat.
“Kondisi panas yang disertai angin kencang membuat api sulit dipadamkan,” kata salah satu petugas pemadam di lokasi melansir laporan BBC.
Asap pekat telah memicu masalah pernapasan pada sejumlah penduduk, memaksa sebagian dirawat di rumah sakit.
Pihak berwenang juga mengeluarkan perintah evakuasi untuk kota berpenduduk 7.700 jiwa di dekat Patras pada Selasa, dan memperluas peringatan ke dua desa lainnya pada Rabu.
Di wilayah lain Yunani, operasi penyelamatan darurat dilakukan di pulau Zante dan Chios, di mana penjaga pantai mengevakuasi puluhan orang yang terjebak ketika api merambat hingga ke bibir pantai.
Pemerintah Yunani meminta dukungan pesawat pemadam dari Uni Eropa untuk memperkuat 4.800 personel pemadam yang kini berjuang menghadapi lebih dari 20 titik kebakaran hutan di berbagai daerah.
Fenomena ini terjadi bersamaan dengan gelombang panas berkepanjangan yang melanda Eropa Selatan.
Dari Portugal hingga Balkan, kebakaran hutan merebak di tengah suhu ekstrem.

Suhu Spanyol Capai 45°C
Di Spanyol, suhu puncak mencapai 45°C pada Selasa, menjadikannya hari ke-10 berturut-turut dengan cuaca terpanas tahun ini.
Seorang warga sipil dan relawan pemadam meninggal pada Rabu, sementara Badan Meteorologi Spanyol memperingatkan hampir seluruh wilayah berada dalam risiko kebakaran “ekstrem” hingga awal pekan depan.
Kebakaran ini juga memicu polemik politik. Menteri Transportasi Spanyol, Oscar Puente, menyindir bahwa “keadaan sedikit memanas” di Castile dan León—wilayah yang tengah terancam api—sekaligus mengkritik pemimpinnya yang sedang berlibur di tengah krisis.
Ucapan itu menuai protes keras dari oposisi yang menuntut pemecatannya. Puente menegaskan komentarnya sebagai bentuk tuntutan akuntabilitas terhadap pemimpin yang absen saat bencana.
Data terbaru menunjukkan 199 kebakaran telah melalap hampir 99.000 hektare hutan di Spanyol sepanjang tahun ini—dua kali lipat kerusakan tahun lalu pada periode yang sama. Sejumlah kebakaran diduga dipicu pembakaran sengaja.
Portugal juga berada dalam status siaga tinggi, dengan 1.800 petugas memerangi lima kebakaran besar, termasuk di Trancoso yang kembali menyala akibat sambaran petir.
Albania menghadapi 24 titik kebakaran aktif yang memaksa evakuasi penduduk desa, sementara Italia baru saja mengendalikan api di Gunung Vesuvius setelah lima hari, namun tetap berada dalam status siaga panas ekstrem di 16 kota.
Dampak suhu ekstrem turut dirasakan Vatikan, di mana Paus Leo memindahkan audiensi mingguan dari Lapangan Santo Petrus ke ruangan tertutup demi keselamatan jemaat.
Inggris pun mengalami gelombang panas keempat musim ini, dengan suhu puncak 34°C disertai peringatan dari otoritas kesehatan terkait lonjakan permintaan layanan medis.
Ahli meteorologi menegaskan bahwa perubahan iklim akibat aktivitas manusia telah meningkatkan frekuensi dan intensitas gelombang panas serta kebakaran hutan di seluruh dunia, menjadikan fenomena ekstrem ini sebagai tantangan yang kian mendesak di abad ke-21.***
