JAKARTA – Fabio Quartararo telah meraskan jatuh bangun dalam karier balapannya (secara harfiah). Pembalap asal Prancis ini, yang pertama kali mengendarai motor pada usia emapt tahun, memperkirakan telah jatuh “setidaknya 150 kali” sepanjang perjalanan kariernya.
“Saya tidak tahu berapa kali saya jatuh sepanjang hidup saya, karena saya telah mengendarai motor sejak usia empat tahun, tetapi Anda jatuh, Anda jatuh, Anda jatuh,” ujar Quartararo kepada Crash. “Saya kira sekitar 150 kali, tetapi mungkin lebih. Waktu kecil, pertama kali saya berguling di air [lintasan basah], saya jatuh tiga kali. Dan Anda keluar lagi, dan Anda keluar lagi. Ayah saya kemudian harus membawa motor itu untuk diperbaiki karena rusak.”
Selama bertahun-tahun, Quartararo telah terbiasa dengan kecelakaan, yang justru membentuk salah satu kekuatannya: keberaniannya di kualifikasi. Juara dunia MotoGP 2021 ini mengungkapkan bahwa dalam mode time-attack, ia memiliki kemampuan unik untuk “memutus” otaknya.
Hasilnya terlihat jelas dengan catatan mengesankan: enam pole position pada musim rookie 2019 dan 14 pole position lagi sejak saat itu—termasuk empat pole position sejauh musim ini.
“Pada akhirnya Anda akan terbiasa, meskipun jelas beberapa pole position lebih menyakitkan daripada yang lain,” kata Quartararo. “Rasa takut? Ketika saya di sini, dan terutama saat kualifikasi, yang merupakan kekuatan saya, otak saya mati. Saya memutusnya.”
“Saat Anda meninggalkan pit stop, yang merupakan putaran yang tidak dihitung dan di mana Anda mempersiapkan ban, saya merasa gugup, sangat gugup, tetapi ketika saya mencapai tikungan terakhir sebelum memulai putaran tercepat, semuanya hilang.”
Baginya, sensasi tersebut mirip dengan rasa sakit yang tiba-tiba menghilang dalam hitungan detik. “Rasanya seperti ketika kepala atau perutmu sakit dan hilang—yah, begini, tapi dalam setengah detik. Lalu kau berputar, dan setelah selesai, kau sadar kau gila, tapi orang gila yang waras.”
Keberanian ini membuat Quartararo menjadi spesialis satu putaran yang mematikan di kualifikasi. Namun, meskipun tampil gemilang di sesi kualifikasi, ia kerap tertinggal di belakang rombongan saat balapan berlangsung.
Kekurangan daya saing motor Yamaha di balapan menjadi sorotan utama. Pengembangan mesin V4, meskipun menarik, belum cukup memberikan dampak signifikan untuk membantu Quartararo, khususnya menjelang MotoGP Austria akhir pekan ini. Yamaha menyadari bahwa tanpa perubahan signifikan pada kecepatan balapan, mereka berisiko kehilangan pembalap berbakat seperti Quartararo yang reputasinya masih sangat berharga di paddock.