Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Senin (19/1/2026), sementara pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) cenderung bergejolak usai mencetak rekor tertinggi sepanjang masa pada pekan lalu. Ketidakpastian global meningkat seiring memanasnya tensi geopolitik akibat ambisi Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengakuisisi Greenland, yang turut mengguncang sentimen pasar keuangan dunia.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka melemah di level Rp16.893 per dolar AS dan sempat tertekan hingga Rp16.919 per dolar AS pada perdagangan pagi. Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia mencatat rupiah berada di posisi Rp16.880 per dolar AS.
Pasar Saham Bergejolak, Sentimen Eksternal Dominan
IHSG mengawali perdagangan dengan penguatan 23,29 poin atau 0,26% ke level 9.098,70. Namun, laju penguatan tak bertahan lama. Pada pukul 09.15 WIB, indeks berbalik terkoreksi 0,51% atau 46,32 poin ke posisi 9.029,09, bergerak dalam rentang 9.025,99–9.109,03 sepanjang sesi awal.
Tekanan datang dari mayoritas bursa Asia yang bergerak melemah. Indeks Nikkei 225 Jepang turun 0,85%, sementara Hang Seng Hong Kong juga berada di zona merah. Pelemahan ini dipicu rencana pengenaan tarif impor oleh AS terhadap delapan negara Eropa yang menentang langkah Washington terkait Greenland. Tarif sebesar 10% dijadwalkan berlaku mulai 1 Februari dan akan meningkat menjadi 25% pada 1 Juni.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan rupiah masih akan bergerak fluktuatif dengan ruang penguatan terbatas di kisaran Rp16.850–Rp16.950 per dolar AS. Menurutnya, tekanan berasal dari kombinasi faktor eksternal dan domestik, termasuk kekhawatiran defisit fiskal yang berpotensi menembus 3% serta ekspektasi pemangkasan suku bunga acuan.
Fokus Pasar ke Rapat Bank Indonesia
Pelaku pasar kini menaruh perhatian pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang akan digelar pada 20–21 Januari 2026. Di tengah tekanan nilai tukar dan ketidakpastian global, bank sentral diperkirakan akan mempertahankan BI Rate di level 4,75%.
Analis PT Reliance Sekuritas Indonesia, Reza Priyambada, menilai IHSG masih memiliki peluang menguat terbatas dengan area support di 9.007 dan resistance di 9.125. Namun, analis Samuel Sekuritas memproyeksikan tekanan masih akan membayangi IHSG seiring sentimen negatif dari pasar AS dan kawasan regional.
Di sisi lain, aset lindung nilai terus diburu. Harga emas dunia mencetak rekor tertinggi baru seiring meningkatnya ketegangan geopolitik. Data Bloomberg menunjukkan harga emas spot melonjak 1,76% ke level US$4.677,1 per troy ounce, sementara harga emas Antam di dalam negeri naik Rp40.000 menjadi Rp2.703.000 per gram.
