JAKARTA – Meskipun krisis politik Venezuela kian memanas, pergerakan harga minyak mentah dunia hingga awal 2026 tetap stabil di level rendah.
Hal tersebut seperti ditegaskan Bhima Yudhistira, Ekonom sekaligus Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios).
“Indeks dolar AS terhadap mata uang lain masih fluktuatif di level 98. Belum terlihat kepanikan investor global karena kejadian di Venezuela,” tuturnya dikutip dari Antara, Senin.
Ia menjelaskan, koreksi harga minyak mencapai 22 persen sepanjang 2025 dan belum ada tanda rebound signifikan di pasar energi global.
Menurut Bhima, biasanya ketidakpastian geopolitik memicu investor beralih ke dolar AS sebagai aset aman, namun kali ini fenomena tersebut belum terlihat meski Venezuela menyimpan cadangan minyak terbesar dunia.
Dampak krisis terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia juga diperkirakan minimal, karena harga komoditas energi seperti minyak, gas, batu bara, dan nikel tidak mengalami lonjakan.
Situasi Venezuela makin tegang setelah serangan militer Amerika Serikat terhadap sejumlah instalasi sipil dan militer pada Sabtu (3/2) dini hari menimbulkan ledakan besar di beberapa negara bagian.
Pemerintah Venezuela merespons dengan menetapkan keadaan darurat nasional, sementara Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi penangkapan Presiden Nicolás Maduro beserta istrinya yang dibawa ke Amerika Serikat.
Trump menyatakan, pemerintahannya akan sementara memimpin Venezuela hingga transisi kekuasaan selesai, serta berencana menggelontorkan investasi miliaran dolar melalui perusahaan minyak AS untuk memulihkan produksi minyak negara itu.
Di sisi lain, Pemerintah Indonesia menyerukan semua pihak mengedepankan dialog, menahan diri, dan patuh pada hukum internasional untuk meredam ketegangan regional.***
