JAKARTA – Wilayah Raja Ampat, Papua Barat Daya, diguncang gempa bumi tektonik bermagnitudo 4,1 pada Jumat dini hari. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan gempa tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami karena pusat gempa berada di laut.
Berdasarkan data BMKG, gempa terjadi pada pukul 03.26 WIB dengan episenter terletak di koordinat 0,09 Lintang Utara dan 129,56 Bujur Timur, atau sekitar 113 kilometer barat Raja Ampat. Kedalaman gempa tercatat 10 kilometer sehingga dikategorikan sebagai gempa dangkal.
Guncangan gempa dirasakan di sejumlah wilayah sekitar. BMKG mencatat intensitas getaran mencapai skala III Modified Mercalli Intensity (MMI) di Pulau Gebe, Halmahera Tengah. Pada skala ini, getaran dirasakan nyata di dalam rumah, menyerupai getaran akibat kendaraan berat melintas, namun umumnya tidak menimbulkan kerusakan.
“Pusat gempa berada di laut 113 kilometer barat Raja Ampat,” demikian pernyataan resmi BMKG.
Hingga pagi ini, belum terdapat laporan korban jiwa maupun kerusakan bangunan akibat gempa tersebut. BMKG terus memantau perkembangan aktivitas seismik dan mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan.
Wilayah Papua Barat Daya, termasuk Raja Ampat yang dikenal sebagai destinasi wisata bahari dunia, berada di zona pertemuan lempeng tektonik sehingga rawan gempa. Gempa dangkal umumnya lebih terasa di permukaan, meski magnitudo 4,1 tergolong ringan hingga sedang.
BMKG mengingatkan masyarakat agar tidak panik, memeriksa kondisi bangunan setelah gempa, serta hanya mengikuti informasi resmi dari pihak berwenang. “Hati-hati terhadap gempa bumi susulan yang mungkin terjadi,” imbau BMKG.
Peristiwa ini menjadi pengingat bagi masyarakat di wilayah rawan gempa untuk selalu meningkatkan kesiapsiagaan bencana, termasuk menyiapkan tas darurat dan memahami jalur evakuasi. Pemerintah daerah juga diharapkan terus memperkuat edukasi mitigasi bencana kepada masyarakat.
BMKG memastikan hingga saat ini tidak terpantau adanya aktivitas gempa susulan yang signifikan.
