NAYPYIDAW – Gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,7 yang mengguncang Myanmar pada Jumat (28/3/2025) lalu mengakibatkan lebih dari 2.700 jiwa melayang hingga Selasa (1/4/2025). Petugas dan relawan terus berusaha keras untuk menyelamatkan korban yang terperangkap, meskipun waktu penyelamatan semakin terbatas.
Jenderal Min Aung Hlaing, pemimpin junta Myanmar, melaporkan bahwa hingga kini, total korban tewas tercatat mencapai 2.719 orang, dengan lebih dari 4.521 orang terluka dan 441 lainnya dinyatakan hilang. Gempa ini tercatat sebagai yang terkuat kedua dalam sejarah Myanmar setelah gempa M8 yang mengguncang dekat Mandalay pada tahun 1912.
Diperkirakan jumlah korban jiwa akan terus meningkat seiring dengan sulitnya akses ke daerah-daerah terdampak, terutama di wilayah yang masih terisolasi akibat kondisi perang saudara yang melanda Myanmar. Sebagian besar korban berasal dari Mandalay, yang terletak dekat dengan pusat gempa, serta ibu kota Naypyidaw.
Julia Rees, perwakilan UNICEF di Myanmar, menyatakan, “Kebutuhan di sini sangat besar dan terus meningkat. Waktu respons penyelamatan semakin terbatas.” Kekurangan pasokan air bersih, pangan, dan obat-obatan akut menjadi masalah utama yang dihadapi banyak keluarga korban.
Di Naypyidaw, petugas pemadam kebakaran berhasil menyelamatkan seorang perempuan yang terjebak di reruntuhan selama 91 jam. Namun, peluang untuk menemukan korban selamat semakin kecil, mengingat 72 jam sudah berlalu sejak gempa terjadi.
Sementara itu, di Mandalay, sebanyak 259 jenazah ditemukan dan 403 orang berhasil diselamatkan. Salah satu peristiwa tragis terjadi saat sebuah vihara runtuh, menimpa sekitar 50 biksu yang tengah mengikuti ujian keagamaan. Diperkirakan lebih dari 150 orang terperangkap dalam reruntuhan vihara tersebut.
Menurut laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), lebih dari 10.000 bangunan rusak atau hancur akibat gempa. Di Thailand, gempa ini menyebabkan sedikitnya 21 orang tewas dan 34 lainnya terluka.
Bantuan internasional mulai berdatangan setelah tiga hari pasca-gempa. Tim penyelamat dari berbagai negara, termasuk China, Rusia, India, Uni Emirat Arab, Indonesia, dan negara-negara ASEAN lainnya, telah tiba di Myanmar untuk membantu upaya pencarian dan penyelamatan.