JAKARTA – Gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Myanmar pada Jumat (28/3/2025) memicu kepanikan di sejumlah negara Asia Tenggara. Pasalnya, guncangan terasa hingga ke Thailand, Vietnam, dan China, bahkan menyebabkan kerusakan serius pada sebuah gedung pencakar langit di Bangkok.
Pusat gempa diketahui berada 16 kilometer di barat laut Kota Sagaing, Myanmar, dengan kedalaman 10 kilometer. Salah satu bangunan tinggi di dekat Pasar Chatuchak, destinasi populer wisatawan di Bangkok, mengalami kerusakan akibat guncangan tersebut.
Tak hanya di Thailand, getaran juga dirasakan oleh warga di Vietnam. Portal berita VnExpress melaporkan, penduduk di Hanoi dan Ho Chi Minh merasakan getaran selama sekitar 10 detik, meskipun kedua kota itu berjarak lebih dari 1.000 kilometer dari pusat gempa. Saksi mata bahkan turut mengungkap bahwa furnitur di dalam gedung-gedung ikut bergoyang.
Bukan hanya Thailand dan Vietnam, guncangan tersebut juga bahkan dilaporkan menjangkau hingga ke wilayah China.
Hal tersebut pun memancing sebuah pertanyaan besar, apakah gempa besar yang berpusat di Myanmar itu dapat berdampak hingga ke Indonesia?
Menanggapi pertanyaan itu, koordinator Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, memberi penjelasan, bahwa Indonesia kemungkinan besar tidak akan terdampak oleh gempa tersebut.
“Gempabumi Myanmar M ini tidak mempengaruhi kegempaan di Wilayah Indonesia,” kata Daryono, sebagaimana yang dilansir dari Kompas, pada Jumat (28/3/2025).
Lebih lanjut, Daryono menjelaskan bahwa sumber gempa di Myanmar dan Thailand berasal dari sistem sesar yang berbeda dengan yang ada di Indonesia.
Menurut Daryono, gempa tersebut terjadi akibat aktivitas Segmen Sesar Sagaing di Myanmar.
“Gempa tidak saling picu dan tidak ada rambatan, kecuali gempa susulan yang sangat terkait sesar yang aktif tersebut,” ujarnya.
Selain itu, ia menambahkan bahwa zona gempa di Myanmar berada cukup jauh dari wilayah Indonesia, sehingga tidak menimbulkan pengaruh terhadap aktivitas seismik di Tanah Air.
