LUMAJANG – Aktivitas vulkanik Gunung Semeru di Jawa Timur masih berstatus Level III atau Siaga berdasarkan laporan pengamatan Rabu (14/10/2026), pukul 00.00–06.00 WIB.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM, mencatat puluhan kejadian gempa erupsi, guguran, dan hembusan selama periode pemantauan tersebut.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Sigit Rian Alfian, melaporkan sebanyak 30 kali gempa letusan atau erupsi dengan amplitudo 11–23 milimeter dan durasi 72–181 detik.
Selain itu, tercatat delapan kali gempa guguran dengan amplitudo 2–7 milimeter dan durasi 44–97 detik.
“8 kali gempa Guguran dengan amplitudo 2-7 mm dan lama gempa 44-97 detik,” ungkap Sigit dalam keterangannya, Rabu (14/10/2026).
Aktivitas kegempaan lainnya berupa tujuh kali gempa hembusan dengan amplitudo 3–6 milimeter dan durasi 37–64 detik.
“7 kali gempa Hembusan dengan amplitudo 3-6 mm, dan lama gempa 37-64 detik,” lanjutnya.
Petugas juga merekam empat kali gempa harmonik dengan amplitudo 2–5 milimeter dan durasi 82–246 detik.
Dari sisi pengamatan visual, gunung setinggi 3.676 meter di atas permukaan laut tersebut terlihat jelas hingga tertutup kabut dengan tingkat ketebalan 0–II.
Asap kawah tidak teramati selama periode laporan, sedangkan kondisi cuaca dilaporkan cerah dengan angin lemah bertiup ke arah barat.
Suhu udara di sekitar kawasan pengamatan berkisar 18–20 derajat Celsius.
PVMBG Larang Aktivitas di Besuk Kobokan
Menyikapi aktivitas vulkanik tersebut, PVMBG meminta masyarakat dan pengunjung mematuhi rekomendasi keselamatan, terutama di kawasan tenggara yang menjadi jalur aliran material vulkanik.
“Tidak melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan, sejauh 13 km dari puncak (pusat erupsi).”
PVMBG juga melarang aktivitas dalam radius 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terdampak perluasan awan panas dan aliran lahar hingga 17 kilometer dari puncak.
“Di luar jarak tersebut, masyarakat tidak melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 km dari puncak,” tulis Sigit.
Larangan juga berlaku untuk kawasan dalam radius lima kilometer dari kawah atau puncak Gunung Semeru karena terdapat ancaman lontaran batu pijar.
“Mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak Gunung Api Semeru, terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat serta potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan,” terang Sigit.
Masyarakat yang tinggal di sekitar lereng Semeru diimbau meningkatkan kewaspadaan, khususnya ketika hujan turun, karena aliran lahar dapat mengancam kawasan sungai yang berhulu di puncak.
Warga juga diminta mengikuti informasi resmi dari PVMBG dan petugas setempat serta tidak memasuki zona berbahaya selama status aktivitas gunung masih berada pada Level III atau Siaga.***