GAZA, PALESTINA – Ketegangan gencatan senjata di Gaza kembali memanas setelah sebuah ledakan menghantam kendaraan lapis baja Israel di Rafah, Rabu (24/12/2025), yang mengakibatkan seorang perwira militer terluka. Israel menuding Hamas sebagai pihak yang melanggar kesepakatan, sementara kelompok Palestina itu membantah keterlibatan dan menyalahkan sisa amunisi perang sebelumnya.
Insiden terjadi saat pasukan Israel melakukan operasi pembersihan infrastruktur militan di kawasan Jenina, Rafah bagian selatan. Perwira dari Brigade Golani yang terluka segera dievakuasi untuk mendapatkan perawatan medis, sementara pihak keluarga telah diberi pemberitahuan.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan negaranya akan “merespons sesuai” atas kejadian tersebut. Kantor Perdana Menteri Israel menyebut ledakan itu sebagai bukti niat kekerasan Hamas yang terus berlanjut dan pelanggaran berulang terhadap kesepakatan gencatan senjata.
Hamas membantah tuduhan tersebut dan menegaskan ledakan berasal dari persenjataan Israel yang tidak meledak dari pertempuran sebelumnya. Kelompok itu menegaskan komitmennya terhadap gencatan senjata yang berlaku sejak 10 Oktober 2025.
Pelucutan Senjata Hamas Jadi Sorotan
Peristiwa ini menyoroti kebuntuan terkait isu pelucutan senjata Hamas yang menjadi syarat utama dalam rencana perdamaian 20 poin Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Para pemimpin Hamas secara konsisten menolak menyerahkan senjata sebelum terbentuknya negara Palestina merdeka dengan angkatan bersenjata sendiri serta jaminan keamanan dari Israel.
“Kami tidak bisa memberikan jawaban ya atau tidak,” ujar anggota biro politik Hamas Mohammed Nazzal kepada Reuters pada Oktober lalu saat ditanya mengenai pelucutan senjata. Pejabat Hamas Khaled Meshaal juga menyatakan dalam sejumlah wawancara bahwa menyerahkan senjata sama dengan “menghilangkan jiwa” organisasi tersebut.
Sumber-sumber Mesir menyebut Hamas hanya bersedia melucuti senjata setelah terbentuknya negara Palestina dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kota. Sebagai alternatif, Hamas mengusulkan penyimpanan senjata selama periode gencatan senjata jangka panjang, antara lima hingga sepuluh tahun, tanpa penyerahan senjata secara langsung.
Upaya AS Dorong Fase Kedua
Utusan Khusus Amerika Serikat Steve Witkoff terus mendorong transisi menuju fase kedua kesepakatan damai. Fase ini mencakup penempatan pasukan stabilisasi internasional, pembentukan pemerintahan teknokratis di Gaza, pelucutan senjata Hamas, serta penarikan pasukan Israel lebih lanjut.
Witkoff baru-baru ini menggelar pertemuan di Miami dengan pejabat senior Mesir, Qatar, dan Turki untuk membahas langkah-langkah implementasi. Media Israel melaporkan fase kedua direncanakan dimulai Januari 2026, meski memicu kekhawatiran di Tel Aviv bahwa proses tersebut dapat berjalan tanpa pelucutan senjata Hamas terlebih dahulu.
Netanyahu dijadwalkan bertemu Presiden Trump di kediaman Mar-a-Lago, Florida, pada 29 Desember mendatang. Agenda utama pertemuan diperkirakan membahas kemajuan rencana damai, termasuk syarat Israel untuk melanjutkan fase kedua, yakni pengembalian jenazah sandera terakhir, Ran Gvili, yang masih ditahan di Gaza.
Pejabat Israel menuding Hamas mengetahui lokasi jenazah Gvili dan melanggar fase pertama kesepakatan karena belum mengembalikannya. Ibu korban, Talik Gvili, turut mendampingi Netanyahu ke Amerika Serikat dan menyatakan dukungannya agar fase kedua ditunda hingga seluruh kewajiban fase awal dipenuhi.
Sejak gencatan senjata diberlakukan, kedua pihak saling menuding melakukan pelanggaran. Otoritas Gaza mencatat Israel melakukan ratusan pelanggaran yang menyebabkan lebih dari 400 warga Palestina tewas. Sementara itu, militer Israel melaporkan puluhan insiden yang melibatkan kelompok militan Palestina hingga pertengahan Desember.
Situasi ini menambah ketidakpastian menuju fase rekonstruksi dan perdamaian jangka panjang di Gaza, dengan isu pelucutan senjata Hamas tetap menjadi penghalang terbesar.
