JAKARTA – Kecelakaan pesawat Jeju Air yang terjadi di Bandara Internasional Muan, Korea Selatan, pada Minggu (29/12) telah menewaskan 179 orang dan menyisakan hanya dua orang selamat.
Insiden ini dianggap sebagai kecelakaan penerbangan terburuk dalam sejarah modern Korea Selatan, melibatkan pesawat Boeing 737-800 dengan nomor penerbangan 7C2216, yang membawa 175 penumpang, termasuk 173 warga Korea Selatan dan dua warga Thailandserta enam awak pesawat.
Pesawat yang terbang dari Bangkok, Thailand, mengalami kecelakaan saat mencoba mendarat tanpa roda, tergelincir dari landasan pacu, dan menabrak dinding luar landasan. Akibatnya, badan pesawat patah dan terbakar. Dua awak yang berada di bagian belakang pesawat berhasil selamat meskipun pesawat lainnya rusak parah.
Otoritas pemadam kebakaran menduga kerusakan pada roda pendaratan akibat tabrakan dengan burung (bird strike) menjadi penyebab utama kecelakaan.
Setelah gagal dalam pendaratan pertama, pesawat melakukan pendaratan darurat (belly landing) karena roda pendaratan yang tidak berfungsi, yang akhirnya berujung pada tragedi tersebut.
Rekaman televisi memperlihatkan asap hitam membubung dari pesawat yang terbakar, serta mesin di sayap kanan pesawat yang mengeluarkan api sebelum pendaratan.
Menteri Agraria, Infrastruktur, dan Transportasi Korea Selatan menyatakan bahwa penyelidikan terhadap insiden ini masih berlangsung, dengan pengambilan data penerbangan dan perekam suara telah selesai dilakukan.
Namun, diperkirakan proses penyelidikan akan memakan waktu beberapa bulan hingga satu tahun untuk mengetahui penyebab pasti kecelakaan.
Sebagai bentuk penghormatan kepada korban, Pelaksana Tugas Presiden Korea Selatan, Choi Sang-mok, mengumumkan masa berkabung nasional selama tujuh hari, dimulai pada 29 Desember 2024 hingga 4 Januari 2025.
Pemerintah juga akan mendirikan altar peringatan di 17 kota dan provinsi. Selama masa berkabung, seluruh pegawai negeri sipil di kementerian, pemerintah daerah, dan lembaga publik diharapkan mengenakan pita berkabung.
Choi juga berjanji akan melakukan penyelidikan mendalam mengenai penyebab kecelakaan dan mengambil langkah-langkah preventif untuk mencegah tragedi serupa.
Selain itu, ia menyatakan bahwa wilayah Muan akan ditetapkan sebagai daerah bencana khusus untuk memberikan dukungan bagi keluarga korban dan para penyintas.
