TEL AVIV, ISRAEL – Kelompok Houthi dari Yaman mengguncang Israel dengan serangan terkoordinasi yang menargetkan infrastruktur strategis, termasuk Bandara Internasional Ben Gurion, Pelabuhan Eilat, dan pangkalan militer di wilayah Negev. Aksi ini terjadi pada Kamis (17/7/2025), menandai eskalasi baru dalam konflik yang terus bergejolak di kawasan tersebut.
Serangan Berani Houthi ke Jantung Israel
Dalam pernyataan resmi yang disiarkan melalui stasiun televisi Al-Masirah, juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengklaim serangan tersebut sebagai bagian dari solidaritas terhadap rakyat Palestina.
“Angkatan Houthi akan terus melakukan tindakan militer terhadap Israel, hingga agresi terhadap Gaza dihentikan dan blokade dicabut,” tegas Saree, sebagaimana dikutip.
Serangan ini melibatkan kombinasi drone dan rudal balistik yang diluncurkan secara serentak. Dua drone menyasar pangkalan militer penting di Negev selatan, sementara satu drone lainnya menghantam Pelabuhan Eilat di pesisir Laut Merah.
Sumber dari Republika menyebutkan bahwa serangan drone ini “mencapai tujuannya dengan presisi,” menambah tekanan pada sistem pertahanan Israel.
Respons Israel dan Dampak Serangan
Militer Israel (IDF) mengaku berhasil mencegat sebagian besar rudal dan drone yang diluncurkan Houthi.
“Setelah sirene terdengar di sejumlah wilayah di Israel, satu rudal yang diluncurkan dari Yaman telah dicegat,” demikian pernyataan resmi IDF.
Meski demikian, serangan ini memicu kepanikan di Tel Aviv, dengan warga setempat berlarian mencari tempat perlindungan. Operasional Bandara Ben Gurion, pusat transportasi udara tersibuk di Israel, sempat terganggu, memicu kekhawatiran akan dampak ekonomi dan keamanan.
Sebagai respons, Israel telah melancarkan serangan balasan ke Yaman, termasuk Operasi Bendera Hitam pada 7 Juli 2025, yang menghantam pelabuhan Hodeida, Ras Isa, Salif, dan pembangkit listrik Ras Qantib. Menurut Kompas, operasi ini bertujuan melemahkan infrastruktur militer Houthi, yang dituding menerima dukungan logistik dari Iran.
Latar Belakang dan Motif Serangan
Houthi, kelompok bersenjata yang menguasai sebagian besar wilayah utara Yaman, telah intensif menyerang Israel sejak perang Gaza meletus pada Oktober 2023. Mereka menyatakan aksi ini sebagai bentuk dukungan terhadap Palestina, sekaligus protes terhadap blokade Israel di Gaza.
“Selama rezim Israel melanjutkan serangannya terhadap Gaza dan mempertahankan pengepungannya di sana, Yaman akan melanjutkan operasinya,” ungkap Saree dalam pernyataan lain yang disiarkan Republika.
Serangan Houthi tidak hanya terbatas pada wilayah Israel. Kapal-kapal yang melintasi Laut Merah dan Teluk Aden, yang dianggap terkait dengan Israel, juga menjadi sasaran. Pada 6 Juli 2025, Houthi diklaim menenggelamkan kapal kargo di Laut Merah, menyebabkan gangguan signifikan pada rute pelayaran global, seperti dilaporkan Jawa Pos.
Eskalasi Konflik dan Implikasi Global
Aksi Houthi ini memperumit dinamika konflik di Timur Tengah, terutama setelah gencatan senjata singkat antara Israel dan Iran pada Juni 2025. Keterlibatan pihak lain, seperti Amerika Serikat, juga menjadi sorotan.
Komando Pusat AS (CENTCOM) melaporkan penyitaan lebih dari 750 ton amunisi Houthi, termasuk rudal jelajah dan anti-kapal, menunjukkan skala ancaman yang dihadapi kawasan.
Sementara itu, Indonesia mengecam keras serangan militer Israel ke wilayah lain, termasuk Suriah, yang menewaskan warga sipil.
“Indonesia prihatin atas memburuknya situasi di Sweida, Suriah, yang telah menimbulkan banyak korban sipil,” tulis Kementerian Luar Negeri RI di akun X resminya, Kamis (17/7/2025).
Dengan Houthi bersumpah melanjutkan serangan dan Israel bersiap membalas, situasi di Timur Tengah kian rawan. Para pengamat khawatir eskalasi ini dapat memicu konflik yang lebih luas, melibatkan kekuatan regional dan global.
