JAKARTA – Direktur I.League Ferry Paulus menilai Persija Jakarta sebaiknya menerima sanksi larangan membawa suporter ke laga tandang tanpa mengajukan banding. Hukuman tersebut dijatuhkan Komite Disiplin (Komdis) PSSI menyusul insiden kericuhan yang melibatkan suporter Macan Kemayoran saat menghadapi Persita Tangerang.
Ferry mengakui Persija memiliki hak untuk mengajukan banding sesuai regulasi yang berlaku. Namun, ia menilai klub perlu mempertimbangkan kembali langkah tersebut dengan melihat latar belakang pelanggaran yang menjadi dasar penjatuhan sanksi.
“Jadi, terhadap keputusan ini dapat diajukan banding, ya. Sesuai dengan pasal yang ada,” ujar Ferry dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu.
Meski demikian, Ferry berpandangan bahwa Persija sebaiknya menjadikan hukuman tersebut sebagai bahan evaluasi atas perilaku suporternya, alih-alih berupaya menggugat keputusan Komdis PSSI.
Sanksi itu merupakan buntut kericuhan dalam pertandingan Persita Tangerang melawan Persija Jakarta pada pekan kelima Super League 2026. Laga tersebut berlangsung di Banten International Stadium, Banten, pada 19 Oktober.
Insiden tersebut kemudian ditindaklanjuti melalui proses disiplin oleh Komdis PSSI. Persija akhirnya dijatuhi hukuman larangan menghadirkan suporter dalam pertandingan tandang selama setengah musim kompetisi.
Hukuman itu berlaku untuk enam pertandingan tandang. Selain larangan kehadiran suporter, Persija juga dikenai denda sebesar Rp90 juta.
Sanksi tersebut menjadi konsekuensi atas insiden yang terjadi dalam pertandingan melawan Persita. Persija pun harus menjalani sejumlah laga tandang tanpa dukungan langsung suporternya.
Di sisi lain, pernyataan Ferry menegaskan bahwa hak banding tetap tersedia bagi klub. Namun, ia menyarankan Persija menerima keputusan tersebut dengan mempertimbangkan rangkaian pelanggaran yang menjadi latar belakang hukuman.
Keputusan ini sekaligus menjadi pengingat bagi klub dan suporter untuk menjaga ketertiban selama kompetisi berlangsung, terutama ketika tim bertanding di kandang lawan.