JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan melanjutkan tren positif pada perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (24/8/2026).
IHSG sebelumnya mengakhiri perdagangan akhir pekan Jumat (21/8/2026) dengan kenaikan 0,37 persen ke posisi 6.525,69.
Penguatan tersebut mendapat dukungan dari stabilnya rupiah serta meningkatnya keyakinan investor terhadap prospek ekonomi nasional.
Meski demikian, pelaku pasar tetap perlu mewaspadai sejumlah tekanan eksternal yang berpotensi membatasi ruang penguatan IHSG dalam jangka pendek.
“Utamanya terhadap saham-saham yang dikeluarkan dari rebalancing indeks FTSE Global Equity Indeks,” kata Tim Analis Phintraco Sekuritas, Senin, 24 Agutus 2026.
Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG bergerak dengan area support 6.500 dan resistance 6.700 pada perdagangan hari ini.
Pergerakan suku bunga global menjadi salah satu faktor penting yang akan menentukan arah pasar saham domestik.
Investor juga mencermati kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah berjangka panjang di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global.
Kondisi tersebut berlangsung bersamaan dengan tingginya harga energi dan pelebaran defisit anggaran Amerika Serikat.
Peningkatan penerbitan surat utang korporasi di Amerika Serikat turut berpotensi memengaruhi sentimen investor di pasar keuangan global.
Imbal hasil US Treasury kembali bergerak naik dengan tenor 10 tahun meningkat tiga basis poin menjadi 4,73 persen.
Sementara itu, yield US Treasury tenor 30 tahun naik lebih dari tiga basis poin hingga mencapai 5,27 persen.
Perhatian pasar selanjutnya tertuju pada Simposium Jackson Hole yang berpotensi memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter Federal Reserve.
Investor akan menunggu pandangan bank sentral Amerika Serikat mengenai kenaikan yield obligasi pemerintah yang terjadi belakangan ini.
Dari pasar komoditas, harga minyak mentah Brent relatif stabil di sekitar USD94 per barel.
Pergerakan harga minyak turut dipengaruhi sinyal diplomatik dari Iran yang disebut berupaya mengakhiri konflik dengan Amerika Serikat.
Dengan kombinasi sentimen domestik dan global tersebut, investor diperkirakan tetap selektif dalam menentukan strategi perdagangan saham.***