Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat signifikan pada perdagangan Rabu (26/11/2025), meski rupiah justru tertekan terhadap dolar Amerika Serikat. Di sisi lain, Bursa Efek Indonesia (BEI) mengumumkan pemantauan khusus terhadap lima saham yang tercatat mengalami lonjakan harga di luar kewajaran.
IHSG Tembus Rekor Tertinggi
IHSG dibuka naik tipis 0,14% di level 8.533,88. Sempat terkoreksi ke 8.503 pada awal sesi, indeks kembali rebound dan berhasil ditutup melesat 80,24 poin atau 0,94% ke level 8.602,13, yang menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah (all-time high).
Pada sesi pertama, IHSG menguat 0,42% ke posisi 8.557,39 dengan total transaksi sebesar Rp14,59 triliun. Sentimen positif datang dari Wall Street yang mencatat penguatan selama tiga hari berturut-turut — Dow Jones naik 1,43%, S&P 500 menguat 0,91%, dan Nasdaq terangkat 0,67%.
Saham PT Bumi Resources (BUMI) menjadi yang paling aktif diperdagangkan dengan transaksi Rp4,68 triliun, disusul PT Rukun Raharja (RAJA) dengan Rp1,18 triliun.
Rupiah Melemah ke Rp16.664
Berbanding terbalik dengan IHSG, nilai tukar rupiah ditutup melemah 0,04% ke Rp16.664 per dolar AS. Rupiah sempat menguat tipis saat pembukaan perdagangan di Rp16.645, namun berbalik tertekan dan menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di kawasan Asia saat sesi tengah hari.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menyebut tekanan ini dipicu ketidakpastian arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve. Meskipun pasar memperkirakan peluang 80% pemangkasan suku bunga pada Desember, perbedaan pandangan di internal The Fed membuat prospek semakin tidak pasti.
BEI Pantau 5 Saham Karena UMA
BEI menyatakan tengah melakukan pengawasan intensif terhadap lima saham yang masuk kategori Unusual Market Activity (UMA) akibat pergerakan harga tidak wajar. Emiten tersebut adalah:
-
APIC
-
BANK
-
TCPI
-
BHAT
-
SWID
Saham BHAT mencatat lonjakan harga paling ekstrem, naik 88,36% dalam sebulan dan 285,28% sejak awal tahun. SWID melonjak 85,06% dalam sebulan dan 133,33% year-to-date. Setelah pengumuman UMA, BHAT masih naik 24,91% ke Rp1.780, sedangkan SWID melemah 6,80% ke Rp137.
BEI menegaskan bahwa penetapan UMA tidak otomatis menandakan adanya pelanggaran, serta mengimbau investor untuk memperhatikan kinerja perusahaan dan keterbukaan informasi sebelum mengambil keputusan investasi.