JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan melanjutkan penguatan pada perdagangan Selasa (18/8/2026).
Proyeksi positif tersebut muncul setelah IHSG mencatat kenaikan kuat pada perdagangan Jumat, 14 Agustus 2026.
IHSG ditutup menguat 1,59 persen ke level 6.401,89 pada akhir perdagangan pekan lalu.
Namun, penguatan indeks masih dibayangi aksi jual bersih investor asing yang mencapai Rp397 miliar.
Tim Analis Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG berpeluang menguji area 6.450-6.480 pada perdagangan hari ini.
“Hari ini, IHSG berpeluang menguat dan akan menguji level 6.450-6.480,” kata Tim Analis Phintraco Sekuritas, Selasa, 18 Agustus 2026.
Risiko Geopolitik Masih Membayangi Pasar
Pelaku pasar tetap perlu mencermati perkembangan geopolitik setelah kesepakatan gencatan senjata AS-Iran berakhir pada 17 Agustus 2026.
Iran disebut tidak membuka peluang negosiasi baru dengan Amerika Serikat setelah berakhirnya kesepakatan tersebut.
Amerika Serikat juga menyatakan tidak akan memperpanjang gencatan senjata dengan Iran dalam perkembangan terbaru.
Ancaman serangan terhadap Oman turut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah.
“Namun para investor terus memantau ketegangan geopolitik di Timur Tengah,” ucap Tim Phintraco.
Ketidakpastian geopolitik berpotensi memengaruhi pergerakan harga komoditas dan meningkatkan volatilitas pasar keuangan global.
Harga Minyak dan Emas Ikut Bergerak
Harga minyak mentah tercatat menguat lebih dari 2,5 persen pada perdagangan Senin, 17 Agustus 2026.
Kenaikan minyak menjadi perhatian karena eskalasi konflik Timur Tengah dapat memengaruhi prospek pasokan energi dunia.
Sementara itu, harga emas naik sekitar 0,9 persen seiring pelemahan dolar Amerika Serikat dan turunnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.
Pergerakan emas mencerminkan meningkatnya minat terhadap aset lindung nilai ketika ketidakpastian global kembali menguat.
Sentimen Domestik Menjadi Penopang
Dari dalam negeri, pasar saham memperoleh dorongan dari sejumlah sentimen positif setelah pidato kenegaraan dan penyampaian Nota Keuangan RAPBN 2027.
Presiden Prabowo Subianto memaparkan berbagai capaian pemerintah sekaligus arah kebijakan ekonomi Indonesia dalam agenda tersebut.
Investasi Indonesia tercatat mencapai Rp1.010 triliun sepanjang semester I 2026 dengan penciptaan lebih dari 1,4 juta lapangan kerja.
Pertumbuhan ekonomi semester I 2026 juga disebut mencapai 5,45 persen secara tahunan dan diarahkan menuju target 6 persen.
“Hal ini berpotensi menjadi faktor positif,” ucap Tim Phintraco.
Menurut Phintraco, peningkatan investasi berpotensi menciptakan efek berantai terhadap konsumsi, penyaluran kredit dan aktivitas dunia usaha.
Sektor perbankan, konsumsi, industri dan konstruksi dinilai berpeluang memperoleh manfaat dari perkembangan tersebut.
Swasembada Pangan Jadi Katalis
Pemerintah juga menyampaikan bahwa Indonesia telah mencapai swasembada beras, jagung dan gula.
Kondisi tersebut dinilai dapat memberikan sentimen positif bagi saham sektor peternakan unggas, perkebunan, pupuk dan industri pengolahan makanan.
Kebijakan energi turut menjadi perhatian setelah Indonesia disebut tidak lagi mengimpor solar sejak 1 Juli 2026.
Penghentian impor solar tersebut didukung implementasi biodiesel B50 yang diproyeksikan menghemat devisa sekitar Rp170 triliun setiap tahun.
Program B50 juga diperkirakan meningkatkan kebutuhan minyak sawit mentah atau CPO untuk pasar domestik.
Restrukturisasi BUMN Jadi Perhatian Investor
Pemerintah menargetkan jumlah badan usaha milik negara (BUMN) maksimal 300 entitas hingga akhir 2026.
Lebih dari 750 entitas BUMN yang dinilai tidak produktif akan ditutup sebagai bagian dari proses restrukturisasi.
Langkah tersebut diperkirakan menghasilkan penghematan biaya overhead sekitar Rp50 triliun setiap tahun.
Dana hasil efisiensi selanjutnya diarahkan untuk investasi, industrialisasi, peningkatan layanan dan kepentingan masyarakat.
Selain itu, dividen BUMN untuk tahun buku 2026 diproyeksikan mencapai Rp200 triliun tanpa tambahan penyertaan modal negara.
Selain faktor global dan kebijakan pemerintah, perhatian investor kini tertuju pada keputusan suku bunga Bank Indonesia.
Kebijakan moneter tersebut akan menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi arah IHSG dan pergerakan aset keuangan domestik.
Dengan berbagai katalis tersebut, IHSG hari ini berpeluang menguat tetapi investor tetap perlu mewaspadai risiko geopolitik dan arus modal asing.***