JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan penguatan terbatas di penutupan perdagangan Jumat (25/7), meski sempat bergerak tidak stabil sepanjang hari.
IHSG ditutup menguat 0,17% ke level 7.543,50, mencerminkan kehati-hatian pelaku pasar menjelang sejumlah agenda ekonomi global penting.
Fluktuasi pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) mengindikasikan dinamika tekanan jual dan beli yang belum seimbang.
Dari total perdagangan, 372 saham mengalami koreksi, 321 saham stagnan, dan hanya 263 saham yang mengalami kenaikan.
Sentimen positif terutama datang dari sektor finansial, bahan baku, dan infrastruktur yang menjadi penggerak utama indeks.
“Saham-saham sektor finansial, bahan baku dan infrastruktur naik paling kuat,” ungkap Tim Analis Phillip Sekuritas Indonesia dalam laporan hariannya.
Perdagangan pada hari ini juga menunjukkan aktivitas tinggi. Saham-saham paling aktif antara lain BRPT, BBCA, WIFI, BMRI, dan BBRI, mencerminkan minat investor yang tersebar di berbagai sektor.
Total frekuensi transaksi mencapai 1,42 juta kali, dengan volume perdagangan sebesar 22,57 miliar lembar saham, dan nilai transaksi menembus Rp12,14 triliun.
Kapitalisasi pasar tercatat di level Rp13.519 triliun, mencerminkan stabilitas pasar di tengah gejolak global.
Tekanan Global Membayangi Pasar Asia
Sementara itu, bursa saham kawasan Asia ditutup melemah pada hari yang sama. Aksi ambil untung investor meningkat menjelang tenggat waktu implementasi tarif dagang baru oleh Amerika Serikat.
“Investor melakukan aksi ambil untung menjelang batas waktu implementasi tarif perdagangan AS,” jelas tim analis Phillip Sekuritas.
Pasar juga menanti kebijakan moneter dari sejumlah bank sentral besar dunia yang akan dirilis pekan depan. Ekspektasi pasar mengarah pada kemungkinan penurunan suku bunga seiring tanda-tanda perlambatan ekonomi.
Langkah Bank Sentral Dunia: Stabilkan atau Tahan?
Bank Sentral Eropa (ECB) memilih menahan suku bunga pada Kamis (24/7), dan menghentikan sementara kebijakan pelonggaran moneter.
Langkah ini diambil sambil mencermati dampak tarif dagang yang akan diterapkan AS terhadap pasar keuangan kawasan.
Dari Asia Timur, Bank Sentral Tiongkok (PBOC) mengambil langkah tegas dengan menyuntikkan likuiditas jumbo sebesar 601,8 miliar yuan (sekitar Rp1,3 triliun) melalui Reverse Repo.
Tujuan utama kebijakan ini adalah menekan tren aksi jual obligasi yang mulai mengganggu stabilitas pasar modal domestik.
Hasilnya, imbal hasil obligasi pemerintah Tiongkok tenor 30 tahun akhirnya turun, setelah sempat mencatat reli selama tujuh hari berturut-turut.
Inflasi Tokyo Melambat, Tanda Efektivitas Kebijakan Jepang
Dari Jepang, rilis data inflasi menunjukkan adanya perlambatan di ibu kota Tokyo.
Inflasi tahunan pada Juli tercatat 2,9%, lebih rendah dibanding bulan sebelumnya yang mencapai 3,1%.
“Upaya Pemerintah Jepang untuk memperlambat laju inflasi tampaknya berhasil. Meskipun tekanan kenaikan harga di Tokyo masih cukup tinggi,” pungkas Tim Phillip Sekuritas.***