JAKARTA – Perayaan Imlek 2026 tidak hanya menjadi panggung budaya dan perputaran ekonomi, tetapi juga ditegaskan sebagai momentum kemanusiaan untuk membantu korban bencana terutama wilayah Sumatra yang terdampak pada Desember 2025 lalu.
Panitia Imlek Nasional 2026 memastikan bahwa kondisi terkini di sejumlah daerah, khususnya Sumatra Utara dan Aceh, menjadi perhatian serius dalam perencanaan acara yang mengusung tema Harmoni Imlek Nusantara 2026.
Komitmen tersebut disampaikan Ketua Umum Panitia Imlek Nasional Airin Umar yang juga menjabat Wakil Menteri Ekonomi Kreatif dalam dialog di Studio Ring 1 Medan Merdeka, Selasa (17/2/2026), dengan menekankan bahwa perayaan tahun ini berjalan berdampingan dengan aksi nyata penggalangan dana.
“Sekarang kita tidak bisa menutup mata bahwa kondisi Indonesia tidak 100% baik-baik saja. Beberapa waktu lalu, misalnya, di Sumatra Utara dan Aceh, saudara-saudara kita sedang berduka. Sampai sekarang masih berduka,” tutur Airin.
Airin menegaskan, dana yang dihimpun dari rangkaian kegiatan Imlek Nasional akan lebih banyak diarahkan untuk kepentingan sosial dengan meminimalkan biaya operasional penyelenggaraan acara.
“Dari bazar sendiri, 20% dari proceeds—jadi dari teman-teman yang makan dan belanja—akan masuk ke kotak amal juga,” tuturnya.
Konsep yang diusung adalah menggerakkan ekonomi rakyat sekaligus menyalurkan kepedulian sosial dalam satu momentum yang sama.
“Sembari roda ekonomi berputar, kita juga beramal. Di tradisi Tionghoa, saat Imlek adalah momen untuk beramal, sama seperti Ramadan dengan zakat,” lanjutnya.
Ia menyatakan, kesempatan ini harus dimanfaatkan bersama agar solidaritas nasional terwujud melalui pengumpulan dana berkelanjutan bagi masyarakat terdampak.
“Harapan saya, tahun depan saat Imlek Festival, saya bisa menunjukkan, ‘Ini loh saudara-saudara kita yang terdampak dan terbantu dari hasil charity’,” tutur Airin.
Skema Dana: Empat Pilar Bantuan Berkelanjutan
Lebih jauh dijelaskan Airin, panitia membagi dana charity ke dalam empat skema utama yang dirancang berorientasi jangka panjang dan respons cepat.
Tiga skema pertama berfokus pada konsep “memberi kail”, antara lain beasiswa pendidikan, penguatan resiliensi masyarakat di kota dan daerah, serta program pemberdayaan lainnya.
Satu skema tambahan dialokasikan sebagai “shield” atau dana darurat yang memungkinkan respons cepat ketika bencana terjadi, termasuk distribusi makanan, sembako, dan kebutuhan pokok lainnya.
Model ini dirancang bukan hanya untuk membantu korban yang sudah terdampak, tetapi juga sebagai cadangan strategis untuk menghadapi potensi bencana di masa depan secara tepat sasaran dan terukur.
Panitia menegaskan bahwa transparansi dan akuntabilitas menjadi fondasi utama dalam pengelolaan seluruh dana yang terkumpul.
Tanpa Dana Negara, Murni Swadaya Komunitas
Dalam kesempatan yang sama, Deputi III Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia, Aderia, memastikan bahwa pelaksanaan Imlek Nasional 2026 sepenuhnya bersumber dari dana komunitas dan tidak menggunakan anggaran negara.
Menurutnya, sejak tahap perencanaan, situasi nasional yang diwarnai berbagai musibah telah menjadi pertimbangan utama dalam menentukan arah kegiatan.
“Yang pertama, anggaran yang digunakan adalah murni anggaran charity. Jadi tidak ada dana negara yang dipakai, melainkan dari paguyuban masyarakat dan komunitas. Selain itu, dari awal memang sudah dialokasikan untuk charity lagi,” terang Aderia.
Pernyataan tersebut sekaligus menegaskan bahwa Imlek Nasional 2026 diarahkan sebagai simbol harmoni, solidaritas, dan kepedulian lintas komunitas di tengah tantangan kebencanaan yang masih dirasakan sebagian wilayah Indonesia.
Dengan pendekatan ini, Imlek 2026 bukan hanya perayaan budaya, tetapi juga gerakan sosial berkelanjutan yang mempertemukan nilai tradisi, empati, dan tanggung jawab kolektif.***