JAKARTA – Pada 4 Juni 1928, sebuah ledakan di atas rel kereta api mengguncang Manchuria dan mengubah arah sejarah Tiongkok. Zhang Zuolin, panglima perang paling berpengaruh di timur laut Tiongkok, tewas dalam serangan mematikan yang kemudian dikenal sebagai Insiden Huanggutun.
Peristiwa ini bukan sekadar tragedi pribadi, tetapi bagian dari rencana licik Jepang untuk memperkuat kendali mereka atas wilayah strategis Manchuria.
Konflik Politik dan Ambisi Jepang di Manchuria
Zhang Zuolin, yang dikenal sebagai “Raja Manchuria”, memegang kendali kuat atas wilayah timur laut Tiongkok. Sebagai pemimpin kelompok Fengtian, ia berhasil memperluas pengaruhnya hingga ke utara Tiongkok. Namun, hubungannya dengan Jepang, yang memiliki kepentingan ekonomi dan politik di Manchuria sejak Perang Rusia-Jepang (1904–1905), mulai memanas. Zhang awalnya menjalin kerja sama dengan Jepang untuk memperkuat posisinya, tetapi sikapnya yang semakin independen membuat Jepang geram.
Pada tahun 1928, Zhang memutuskan untuk menyerahkan kendali Beijing kepada pemerintah nasionalis Guomindang pimpinan Chiang Kai-shek (Jiang Jieshi) dan berencana kembali ke Shenyang. Keputusan ini dianggap sebagai pengkhianatan oleh Jepang, yang menginginkan Manchuria sebagai wilayah boneka di bawah kendali mereka. Untuk menghentikan langkah Zhang, sekelompok kecil tentara dari pasukan Guandong Jepang, yang dipimpin oleh Kolonel Daisaku Komoto, merancang rencana pembunuhan yang keji.
Insiden Huanggutun, Ledakan yang Mengubah Sejarah
Pada 4 Juni 1928, kereta api Jinfeng yang membawa Zhang Zuolin meledak saat melintasi jembatan dekat stasiun Huanggutun, Shenyang. Bom yang dipasang dengan cermat oleh agen Jepang memicu kehancuran besar.
“Zhang dan stafnya tewas seketika, sementara beberapa lainnya meninggal akibat luka-luka beberapa jam kemudian,” tulis laporan sejarah yang dikutip dari situs Totally History.
Peristiwa ini, yang awalnya dirahasiakan oleh Jepang dengan menyebutnya sebagai “Insiden Penting di Manchuria”, memicu kemarahan internasional.
Jepang menolak memberikan komentar resmi, tetapi kecurigaan dunia tertuju pada Tentara Kwantung, pasukan Jepang yang ditempatkan di Manchuria. Insiden ini bukan hanya pembunuhan seorang pemimpin, tetapi juga bagian dari strategi Jepang untuk menguasai kekayaan mineral Manchuria dan memperluas pengaruh mereka di Asia.
Zhang Xueliang Penerus yang Mengubah Arah
Kematian Zhang Zuolin tidak serta-merta memberikan kemenangan bagi Jepang. Putranya, Zhang Xueliang, yang dijuluki “Komandan Muda”, mengambil alih kekuasaan di Manchuria. Berbeda dengan ayahnya, Zhang Xueliang memilih untuk menghindari konflik langsung dengan Jepang dan membuka dialog dengan Chiang Kai-shek. Langkah ini menunda rencana Jepang untuk mendirikan pemerintahan boneka di Manchuria hingga beberapa tahun kemudian.
“Zhang Xueliang muncul sebagai pemimpin baru yang mengejutkan dari kelompok Fengtian,” tulis laporan dari Merdeka.com. Kepemimpinannya membawa dinamika baru dalam politik Tiongkok, di mana ia berusaha menyeimbangkan hubungan dengan nasionalis dan menjaga stabilitas di wilayahnya.
Dampak dan Warisan Sejarah
Insiden Huanggutun menjadi titik balik dalam sejarah Tiongkok dan hubungan Tiongkok-Jepang. Pembunuhan Zhang Zuolin memperlihatkan ambisi imperialis Jepang yang semakin agresif, yang kemudian memuncak pada invasi Manchuria pada tahun 1931. Peristiwa ini juga menyoroti betapa rapuhnya keseimbangan kekuatan di Republik Tiongkok pada masa itu, di mana panglima perang, nasionalis, dan kekuatan asing saling berebut pengaruh.
Hingga kini, peristiwa 4 Juni 1928 tetap dikenang sebagai salah satu episode kelam dalam sejarah Tiongkok. Insiden ini bukan hanya tentang kematian seorang pemimpin, tetapi juga cerminan dari intrik politik, ambisi kekuasaan, dan konflik global yang terus membentuk dunia modern.
Insiden Huanggutun memberikan wawasan tentang dinamika politik dan konflik di Asia pada awal abad ke-20. Peristiwa ini mengajarkan kita bagaimana kepentingan ekonomi dan politik dapat memicu tindakan ekstrem, serta bagaimana satu kejadian dapat mengubah jalannya sejarah.