JAKARTA – Militer Israel melakukan serangan udara di Qatar pada Selasa (9/9/2025), menargetkan para pemimpin politik Hamas. Aksi ini memicu kontroversi global karena berpotensi menggagalkan upaya mediasi perdamaian yang dilakukan Qatar antara Israel dan Hamas.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memberikan tanggapan ambivalen, menyebut serangan ke Qatar sebagai langkah yang salah, namun mendukung tujuan Israel untuk melenyapkan Hamas.
Serangan ini dilaporkan dilakukan tanpa pemberitahuan langsung dari Israel kepada militer AS, meskipun Trump mengaku mendapat peringatan dari angkatan bersenjata AS melalui unggahan di media sosial. Qatar, yang dikenal sebagai sekutu utama AS di luar NATO dan tuan rumah Pangkalan Udara Al-Udeid—fasilitas militer terbesar AS di Timur Tengah—menjadi sasaran kecaman dari berbagai pihak, termasuk Arab Saudi, Mesir, Uni Emirat Arab, dan Uni Eropa.
“Pengeboman sepihak di Qatar, negara berdaulat dan sekutu dekat Amerika Serikat, yang bekerja sangat keras dan berani mengambil risiko bersama kami untuk menengahi perdamaian, tidak memajukan tujuan Israel atau Amerika,” tulis Trump, dikutip Reuters.
“Namun, melenyapkan Hamas, yang telah mengambil untung dari penderitaan mereka yang tinggal di Gaza, adalah tujuan yang mulia,” imbuhnya.
Trump menegaskan bahwa upaya menghancurkan Hamas adalah langkah yang sah, meski ia menyayangkan serangan tersebut terjadi di Qatar, negara yang telah lama menjadi basis politik kelompok Islamis Palestina tersebut.
Serangan ini dinilai memperumit dinamika diplomatik, mengingat peran Qatar sebagai mediator kunci dalam konflik Israel-Hamas.
Kecaman Internasional dan Dampak Diplomatik
Tindakan Israel menuai reaksi keras dari komunitas internasional. Negara-negara Teluk dan Uni Eropa mengecam serangan tersebut sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan Qatar.
Langkah ini juga memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik di Timur Tengah, terutama karena Qatar memiliki hubungan strategis dengan AS dan berperan penting dalam menjaga stabilitas regional.
Militer Israel mengklaim serangan tersebut bertujuan untuk menumpas pimpinan Hamas yang dianggap bertanggung jawab atas berbagai aksi di Gaza.
Namun, serangan ini justru memicu pertanyaan tentang efektivitas dan konsekuensi jangka panjang, terutama terkait upaya perdamaian yang sedang berlangsung.
Latar Belakang Konflik dan Peran Qatar
Qatar telah lama menjadi penutup bagi para pemimpin politik Hamas, sekaligus menjalankan peran sebagai mediator dalam negosiasi antara Israel dan kelompok militan tersebut.
Pangkalan Udara Al-Udeid di Qatar juga menjadi simbol kerja sama militer erat antara Doha dan Washington.
Serangan Israel ini tidak hanya mengancam hubungan diplomatik, tetapi juga meningkatkan ketegangan di kawasan yang sudah rawan konflik.
Analis politik menilai, serangan ini dapat mempersulit upaya gencatan senjata dan memperburuk situasi kemanusiaan di Gaza, di mana Hamas masih memiliki pengaruh signifikan.
Dengan meningkatnya tekanan internasional, Israel kini berada di bawah sorotan untuk menjelaskan strategi dan dampak serangan ini terhadap stabilitas regional.