Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) DKI Jakarta melaporkan dominasi luar biasa ibu kota dalam ekosistem pembayaran digital. Saat ini, Jakarta menyumbang lebih dari sepertiga (36%) volume transaksi QRIS nasional, dengan angka mencapai 5,6 miliar transaksi dari total nasional sebesar 15,5 miliar.
Kepala KPw BI DKI Jakarta, Iwan Setiawan, menegaskan bahwa fenomena ini membuktikan inklusivitas teknologi keuangan di masyarakat. “Sekarang pedagang gerobak pun sudah pakai QRIS. Ini bukti bahwa digitalisasi tidak lagi eksklusif milik mal besar, tapi sudah menyentuh akar rumput,” ujarnya.
UMKM: Sang Pemain Kunci
Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) resmi menjadi tulang punggung digitalisasi di Jakarta dengan porsi mencapai 75,22% dari total pengguna. Tren ini selaras dengan data nasional per kuartal IV 2025, di mana merchant UMKM mendominasi hingga 95,74% atau sekitar 40,92 juta merchant di seluruh Indonesia.
Secara kumulatif, statistik pertumbuhan di Jakarta pada 2025 menunjukkan tren positif:
-
Pengguna QRIS: Meningkat menjadi 6,1 juta orang (naik 3,87%).
-
Merchant QRIS: Tumbuh signifikan 13,90% menjadi 6,5 juta merchant.
Menuju Jakarta Kota Global 2026
Menatap tahun 2026, BI memprediksi ekonomi Jakarta akan tumbuh optimis di angka 4,8 hingga 5,6 persen. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, berkomitmen memperkuat kolaborasi dengan BI dan OJK untuk mempercepat transformasi digital demi mewujudkan visi Jakarta sebagai kota global yang kompetitif.
Tak berhenti di dalam negeri, Bank Indonesia juga membidik pasar internasional. Pada kuartal pertama 2026, penggunaan QRIS ditargetkan berekspansi ke China dan Korea Selatan. Secara nasional, BI mematok target ambisius tahun ini dengan 17 miliar transaksi dari 60 juta pengguna dan 45 juta merchant.
