GAZA, PALESTINA – Serangan brutal militer Israel terhadap tenda jurnalis di Kota Gaza pada Minggu malam (10/8/2025) menewaskan lima jurnalis, termasuk Anas Al Sharif, koresponden terkemuka Al Jazeera. Insiden ini memicu kecaman keras, sementara pesan terakhir Anas yang dirilis di media sosial X menjadi sorotan dunia, menggambarkan perjuangannya untuk kebebasan Palestina.
Militer Israel menargetkan tenda yang menjadi tempat kerja para jurnalis Al Jazeera di dekat Rumah Sakit Al Shifa, Gaza. Serangan tersebut tidak hanya merenggut nyawa Anas, tetapi juga empat rekannya, meninggalkan duka mendalam di kalangan komunitas jurnalis. Israel mengklaim Anas dan rekan-rekannya bekerja untuk Hamas, tuduhan yang dibantah keras oleh Al Jazeera dan sejumlah organisasi, termasuk Komite untuk Perlindungan Jurnalis (CPJ) serta pelapor khusus PBB untuk kebebasan berekspresi.
Pesan Terakhir Anas Al Sharif
Anas, yang dikenal sebagai suara rakyat Palestina di tengah konflik, menulis pesan terakhirnya pada 6 April 2025 di akun X-nya, dengan wasiat agar pesan itu dirilis setelah kematiannya.
“Inilah wasiat dan pesan terakhir saya. Jika kata-kata ini sampai kepada Anda, ketahuilah bahwa Israel berhasil membunuh saya dan membungkam suara saya,” tulisnya. Dalam pesan itu, ia menyampaikan salam perpisahan kepada keluarga dan kerabat, sekaligus menyerukan pembebasan Palestina dari “kekejian Israel.” Pesan ini viral di media sosial, memicu gelombang solidaritas global untuk perjuangan jurnalis di zona konflik.
Latar Belakang Anas Al Sharif
Lahir pada 1996 di Kamp Pengungsi Jabalia, Gaza, Anas adalah lulusan sarjana komunikasi massa dari Universitas Al Aqsa. Ia memulai karier jurnalistiknya melalui magang di Al Shamal Media Network sebelum bergabung dengan Al Jazeera sebagai koresponden di Gaza utara.
Sejak perang Israel-Hamas meletus pada Oktober 2023, Anas dikenal gigih melaporkan kekejaman perang, kelaparan, dan pengusiran warga Palestina, meski nyawanya terancam.
Ia bahkan kehilangan ayahnya dalam serangan Israel di Jabalia pada Desember 2023, namun memilih tetap bertahan untuk menyuarakan penderitaan rakyat Gaza.
Kontroversi dan Ancaman
Anas kerap menjadi sasaran ancaman, mulai dari panggilan telepon, pesan suara, hingga kampanye diskreditasi di media sosial yang menuduhnya sebagai “teroris” tanpa bukti. CPJ menyebut ancaman ini sebagai “pendahuluan pembunuhan,” menyerukan perlindungan bagi jurnalis di Gaza.
Video terakhir Anas di X, yang diunggah sesaat sebelum kematiannya, menunjukkan gempuran udara Israel di Kota Gaza dengan kilatan oranye dan dentuman bom.
“Pengeboman tanpa henti, agresi Israel meningkat dalam dua jam terakhir,” ujarnya dalam video tersebut, menjadi saksi terakhir kekerasan yang merenggut nyawanya.
Kematian Anas dan rekan-rekannya memicu kecaman luas. Al Jazeera menegaskan tuduhan Israel tidak berdasar, sementara CPJ dan PBB menyerukan investigasi independen atas serangan tersebut. Tragedi ini juga memperkuat sorotan terhadap pelanggaran Israel di Gaza, termasuk rencana pencaplokan wilayah yang dikecam Indonesia dan anggota Dewan Keamanan PBB seperti Rusia, China, Inggris, dan Prancis.
Anas Al Sharif bukan hanya jurnalis, tetapi simbol perlawanan dan keberanian dalam menyuarakan kebenaran di tengah konflik. Pesan terakhirnya kini menjadi pengingat akan harga mahal yang dibayar jurnalis demi keadilan dan kebebasan.