JAKARTA – Kementerian Pertahanan menegaskan bahwa keselamatan wartawan merupakan prioritas utama dalam peliputan di wilayah konflik. Analis Kebijakan Madya Bidang Hubungan Media Internasional dan Informasi Pertahanan Setjen Kementerian Pertahanan, Kolonel Inf Eko Pramono, menyebut peliputan konflik membutuhkan kesiapan komprehensif yang jauh melampaui praktik jurnalistik biasa.
Menurut Kolonel Eko, peliputan di daerah konflik sarat dengan ancaman fisik, tekanan psikologis, hingga risiko manipulasi informasi. Oleh karena itu, perlindungan terhadap jurnalis harus menjadi fondasi utama tanpa mengorbankan integritas dan etika pemberitaan.
“Peliputan jurnalistik di wilayah konflik menuntut kesiapan yang jauh melampaui praktik peliputan biasa. Ancaman fisik, tekanan psikologis, hingga risiko manipulasi informasi menjadi tantangan nyata yang dihadapi wartawan di lapangan,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa keselamatan bukan berarti mengurangi kualitas liputan. Sebaliknya, persiapan yang matang justru menjadi kunci agar wartawan dapat bekerja secara profesional, netral, dan bertanggung jawab.
Kolonel Eko juga mengingatkan bahwa tidak ada berita yang sebanding dengan nyawa manusia. Setiap penugasan di zona konflik harus dilandasi prosedur operasional standar yang ketat, mulai dari tahap perencanaan hingga evaluasi pascatugas.
Pernyataan ini disampaikan di tengah meningkatnya konflik global, yang dalam beberapa tahun terakhir menyebabkan puluhan jurnalis kehilangan nyawa saat menjalankan tugas peliputan.


