JAKARTA – Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Luhut Binsar Pandjaitan, menegaskan komitmen pemerintah dalam mengatasi perubahan iklim melalui program waste to energy dan transisi rendah karbon untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi 8% pada 2028-2029.
“Dengan tarif baru 20 sen per kilowatt-hour untuk waste-to-energy, masalah sampah di 15 kota besar seperti Jakarta dan Bali akan mulai teratasi dalam beberapa tahun ke depan,” ujar Luhut dalam acara di Jakarta.
Luhut menjelaskan, program waste-to-energy akan didukung investasi besar dari sistem perbankan, yang juga diarahkan untuk mendorong perdagangan karbon. “Tarif karbon sudah ditetapkan, ini akan jadi sumber penerimaan negara yang besar,” tambahnya.
Selain itu, transformasi digital melalui government technology menjadi pilar utama. Proyek percontohan di Banyuwangi, yang menghemat hingga 40% belanja negara, akan dievaluasi untuk ekspansi nasional pada 2026. “Digitalisasi ini kurangi korupsi dan tingkatkan efisiensi. World Bank dan Harvard sangat kagum,” ungkap Luhut.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, Indonesia tetap menunjukkan ketahanan. “Posisi kita sangat baik, didukung hubungan strategis dengan AS, Eropa, dan Tiongkok. Pidato Presiden Prabowo di PBB juga mendapat apresiasi tinggi,” ujarnya.
