Kehadiran Presiden Prabowo Subianto di Posko Pengungsian Lapangan Berdikari, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), menjadi angin segar bagi para korban dan relawan bencana. Momen tatap muka langsung ini dimanfaatkan warga untuk menyampaikan kondisi terkini serta harapan mereka pascadihantam gempa bumi kuat bermagnitudo 7,7.
Di tengah penanganan darurat yang terus berjalan, langkah cepat penanganan bencana yang digerakkan pemerintah mendapat respons positif dari para relawan kemanusiaan, termasuk kelompok mahasiswa Universitas Nusa Cendana (Undana).
Angelo, mahasiswa Undana yang menerjunkan diri ke lokasi bencana sejak dua hari lalu, mengapresiasi kesiapan posko dan kelengkapan fasilitas penampungan yang tersebar di titik-titik vital seperti lapangan, kawasan gereja, hingga area masjid.
“Untuk penanganan dari pemerintah sendiri, kami lihat sudah cukup cepat mengambil tindakan dengan mendirikan posko bencana. Sinergi TNI, Polri, dan pemerintah daerah membuat pasokan makanan hingga air bersih terpenuhi dengan baik,” tutur Angelo, Rabu (26/8/2026).
Dapur Umum Terus Bersiaga Pasok Kebutuhan Pangan
Kelancaran distribusi logistik di Lapangan Berdikari ditunjang oleh kehadiran dapur umum yang didirikan jajaran TNI-Polri. Keberadaan dapur umum ini memastikan ratusan jiwa pengungsi mendapatkan jaminan pasokan gizi yang layak setiap harinya.
Fasilitas layanan dasar di area pengungsian meliputi:
-
Jaminan Pangan Teratur: Makanan siap saji disiapkan secara rutin tiga kali sehari (sarapan, makan siang, dan makan malam).
-
Pasokan Air Bersih: Kebutuhan sanitasi dan air minum warga terpantau aman dan tercukupi.
-
Titik Evakuasi Terintegrasi: Pendirian posko tersebar merata guna menjangkau kantong-kantong pemukiman warga terdampak.
Suara Hati Korban: Rumah Hancur, Rasa Syukur Tetap Terjaga
Apresiasi senada diungkapkan oleh Arif, warga Desa Marapokot, Kecamatan Aesesa. Arif yang kini terpaksa menetap di tenda darurat menceritakan perjuangan keluarganya bertahan hidup pascagempa dahsyat yang meluluhlantakkan kediamannya hingga rata dengan tanah.
“Hari-hari pertama kita mengungsi dan lari ke atas gunung dulu, baru pindah ke posko ini setelah dibangun. Kalau bantuan pemerintah Alhamdulillah cepat datangnya. Yang penting keluarga selamat semua, tidak ada korban jiwa, walaupun rumah hancur semua,” ungkap Arif dengan nada tegar.
Sang istri yang mendampinginya pun mengekspresikan rasa syukur atas perhatian yang diberikan pemerintah dan relawan di lokasi pengungsian.
“Makanan Alhamdulillah masih bisa kami makan dan bertahan sampai sekarang. Makanan baik dan kita dapat makan tiga kali sehari,” tambahnya.
Meski kebutuhan dasar terpenuhi, para pengungsi menaruh harapan besar agar proses rehabilitasi dan rekonstruksi pemukiman dapat segera direalisasikan agar mereka bisa kembali memiliki tempat tinggal yang layak dan aman.