JAKARTA – Langkah besar Indonesia menuju kemandirian energi kembali tergambar melalui gelaran The 11th Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) 2025 yang berlangsung di Jakarta Convention Center, 17–19 September 2025.
Pameran energi panas bumi kelas dunia ini bukan sekadar ajang mempertontonkan teknologi, melainkan juga penanda betapa strategisnya peran anak bangsa dalam menggarap potensi energi yang tersimpan di perut bumi.
Salah satu yang mencuri perhatian adalah kehadiran PT Rekayasa Industri (Rekind). Anak perusahaan PT Pupuk Indonesia (Persero) ini tampil dengan membawa rekam jejak panjang. Posisinya cukup strategis dalam mempercepat terwujudnya swasembada energi sebagaimana dicanangkan dalam Asta Cita pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
“Sejak awal kami berkomitmen untuk menjadi bagian dari perjalanan besar bangsa, salah satunya dalam memanfaatkan panas bumi dalam mewujudkan mewujudkan ketahanan energi sesuai Asta Cita yang dituangkan pemerintah,” ujar Direktur Utama Rekind Triyani Utaminingsih, di sela-sela kegiatan pameran.
Pernyataan wanita yang akrab disapa Yani itu bukan tanpa dasar. Saat ini Indonesia membangun pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) dengan kapasitas total mencapai 2.744 MW. Dari jumlah itu, 35,91 persennya (sekitar 985,4 MW) berasal dari total kapasitas sejumlah PLTP yang dirancang bangun oleh Rekind dengan dukungan putra-putri terbaik bangsa. Tentunya, angka tersebut juga menegaskan posisi Perusahaan EPC (Engineering, Procurement & Construction) Industrial Process milik bangsa, sebagai pemain utama dalam industri strategis ini. “Bayangkan, hampir setengah dari listrik panas bumi yang menopang negeri ini, lahir dari tangan Rekind. Ini bukan sekadar statistik, melainkan bukti nyata kemampuan anak bangsa,” tambah Yani bangga.
Lebih dari sekadar angka, PLTP juga menghadirkan manfaat sosial dan ekonomi yang nyata. Energi panas bumi dikenal sebagai sumber energi base-load yang stabil, ramah lingkungan, dan berkelanjutan. Kehadirannya membuka lapangan kerja baru, menggerakkan perekonomian daerah, dan mengurangi ketergantungan bangsa terhadap bahan bakar fosil.
“Panas bumi adalah energi masa depan. Stabil, bersih, dan menjadi jembatan penting bagi transisi energi kita. Tanpa percepatan di sektor ini, swasembada energi akan sulit tercapai,” kata Direktur Operasi dan Teknologi/Pengembangan Rekind Yusairi yang turut hadir dalam pameran tersebut.
Dalam kegiatan pameran tersebut, Rekind juga menegaskan kolaborasi strategisnya dengan PT Timas Suplindo. Keduanya sepakat menggandengkan keahlian lewat Joint Operation (JO) Timas-Rekind untuk menggarap proyek PLTP Salak Unit 7 di Bogor, Jawa Barat. Proyek ini bukan sekadar pembangunan pembangkit baru, tetapi juga simbol penting sinergi antara BUMN dan swasta nasional dalam mempercepat transisi energi. “Kolaborasi ini menunjukkan sinergi pemerintah dan swasta dalam membangun ekonomi hijau. Kami memastikan pembangunan berjalan efektif, aman, dan tidak mengganggu operasional unit yang sudah ada,” tambah Yusairi.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, yang membuka kegiatan pameran tersebut mengatakan, Indonesia memiliki posisi yang kuat sebagai salah satu negara dengan energi panas bumi terbesar di dunia. Posisi Indonesia satu tingkat di bawah Amerika Serikat, yang memiliki 3.937 MW kapasitas terpasang dan menduduki posisi teratas dunia.
Suasana pameran kian hidup melalui sejumlah interaksi dan diskusi antara pelaku industri, akademisi, serta masyarakat. Kesan yang jelas tergambar, Indonesia punya kemampuan murni untuk berdiri di atas kaki sendiri di bidang energi, dan Rekind menjadi bukti nyata kekuatan itu.