Memasuki hari keempat operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) korban longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Selasa (27/1/2026), Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) memperluas area operasi dengan mengalihkan fokus pencarian ke sektor baru.
Sekitar 100 personel SAR dipindahkan dari sektor A2 ke sektor B2 setelah evaluasi lapangan menunjukkan potensi lebih besar ditemukannya korban di wilayah tersebut.
Direktur Operasi dan Siaga Basarnas, Bramantyo, menjelaskan bahwa keputusan ini diambil berdasarkan hasil peninjauan dan temuan pada hari sebelumnya.
“Kalau kemarin pencarian difokuskan secara maksimal di sektor A1 dan A2, maka mulai pagi ini kami merambah ke sektor B2. Sejumlah kekuatan dari A2 kami geser ke B2,” ujar Bramantyo di lokasi bencana.
Medan Labil dan Cuaca Buruk Hambat Operasi
Operasi SAR di lapangan menghadapi tantangan berat, terutama kondisi tanah yang labil. Pergerakan tanah masih kerap terjadi saat proses penggalian berlangsung, sehingga meningkatkan risiko bagi petugas.
“Tantangan terbesar masih sama seperti hari sebelumnya. Selain faktor alam, kontur tanah sangat labil. Di lapangan, setelah satu bagian diangkat, sering kali terjadi pergerakan tanah kembali,” kata Bramantyo.
Cuaca yang tidak menentu turut memperlambat pencarian. Hujan deras yang turun pada siang hari memaksa tim menghentikan sementara proses evakuasi demi keselamatan, mengingat ancaman longsor susulan masih tinggi.
Alat Berat dan Personel Ditambah
Untuk mempercepat proses pencarian, jumlah alat berat ditambah menjadi 13 unit ekskavator. Selain itu, jumlah personel SAR gabungan meningkat menjadi hampir 1.000 orang, naik dari sekitar 800 personel pada hari sebelumnya.
Tim SAR gabungan melibatkan Basarnas, TNI, Polri, BPBD, relawan, serta unsur medis dan pendukung lainnya.
Data Korban Terbaru
Hingga Senin (26/1/2026) pukul 18.30 WIB, Tim SAR gabungan telah mengevakuasi 38 kantong jenazah dari lokasi longsor. Dari jumlah tersebut, 20 jenazah telah berhasil diidentifikasi oleh Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Barat dan diserahkan kepada pihak keluarga.
Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii menyatakan bahwa operasi pencarian akan diperpanjang hingga 14 hari, sejalan dengan status tanggap darurat yang ditetapkan Pemerintah Kabupaten Bandung Barat.
“Masih ada 42 orang yang dilaporkan hilang dan dalam proses pencarian,” ujarnya.
Prajurit Marinir Turut Menjadi Korban
Bencana longsor ini juga menimpa 23 prajurit Marinir TNI Angkatan Laut yang tengah melaksanakan latihan pratugas pengamanan perbatasan RI–Papua Nugini di kawasan tersebut.
Dari jumlah tersebut, empat prajurit ditemukan meninggal dunia, sementara 19 prajurit lainnya masih dalam pencarian. Untuk mendukung operasi, TNI AL mengerahkan 200 personel Marinir tambahan, lengkap dengan drone, kamera termal, dan anjing pelacak.
Dugaan Penyebab Longsor
Longsor terjadi pada Sabtu (24/1/2026) sekitar pukul 02.30 WIB, setelah wilayah tersebut diguyur hujan dengan intensitas tinggi sejak Jumat.
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jawa Barat menduga bencana ini merupakan akumulasi kerusakan lingkungan, terutama akibat alih fungsi lahan yang tidak sesuai dengan tata ruang di kawasan Bandung Utara, yang membuat wilayah tersebut semakin rentan terhadap bencana hidrometeorologi.